Banyumas – Pagi di Desa Rawaheng, Kecamatan Wangon, Banyumas, berjalan seperti biasa. Matahari naik perlahan, embun belum sepenuhnya hilang, dan di sebuah kandang sederhana, Edi Santosa memulai rutinitasnya.
Tak banyak yang berubah dari gerakannya – memberi pakan, memeriksa ternak, memastikan semuanya sehat. Yang berubah adalah jumlah dan perjalanan yang telah dilalui.
Tahun 2021, Edi memulai semuanya dari empat ekor domba lokal. Tak ada rencana besar, hanya niat untuk mencoba dan belajar. Domba-domba kecil itu menjadi awal dari sebuah proses panjang yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan konsistensi – hal-hal yang kerap luput di tengah dunia yang serba cepat.
Waktu memberi jawabannya. Perlahan, Edi memperbaiki kandang dan pola perawatan. Pengetahuan bertambah, pengalaman mengasah naluri. Domba lokal berganti dengan jenis-jenis unggulan: cros texel, dombos, cros merino, hingga domba batur yang kini menjadi andalan. Bukan sekadar soal jenis, tetapi tentang memilih yang paling sesuai dengan alam dan kemampuan.
Empat tahun berlalu. Jumlah ternak bertambah menjadi 65 ekor. Sebagian besar adalah indukan domba batur – investasi sunyi untuk masa depan. Tak ada lonjakan tiba-tiba, tak ada jalan pintas. Semua tumbuh pelan, seiring hari-hari yang dijalani dengan disiplin.
Perawatan dijaga dengan ritme yang sama. Pakan teratur, vitamin cukup, bulu dicukur agar pertumbuhan daging tetap optimal. Limbah tebon jagung yang melimpah diolah menjadi silase – cara sederhana untuk memastikan ternak tetap terurus bahkan saat musim hujan datang.
Menariknya, beternak bukan satu-satunya peran Edi. Ia adalah Sekretaris Desa Rawaheng. Waktu merawat ternak hanya dua jam setiap pagi dan sore. Namun dari sela-sela waktu itu, tumbuh usaha yang kini menjangkau Wonosobo, Banjarnegara, hingga Jawa Timur. Domba usia empat hingga enam bulan bernilai lebih dari satu juta rupiah, bergantung pada jenis dan kondisi.
Di kandang itu, Edi belajar bahwa usaha bukan tentang seberapa cepat hasil didapat, melainkan seberapa lama kesabaran dirawat. Empat ekor domba mungkin tampak kecil di awal. Tetapi bagi Edi, itulah titik mula – tempat waktu, kerja, dan keyakinan bertemu, lalu perlahan membentuk masa depan.
Alumni ITB 1975 Sambangi Kebun Durian Bhinneka Bawor Banyumas, Bukti Durian Lokal Kian Mendunia Banyumas…
Kapolda Sulsel Kunjungi Polres Pangkep, Pimpin Apel Arahan dan Beri Apresiasi Personel Berprestasi Pangkep —…
Kepadatan Kapal di Pelabuhan Muara Angke Picu Keluhan Pengusaha, Polisi dan UPPP Lakukan Penertiban Jakarta…
Audit Inspektorat Dipersoalkan, Kades Klapagading Kulon Temui Gubernur Semarang — Kepala Desa Klapagading Kulon, Kecamatan…
Perkembangan geopolitik dunia memasuki babak baru, dengan semakin berkembangnya teknologi informasi (TI) yang memasuki fase…
Dinas Daftarkan Hak Kekayaan Intelektual, Indikasi Geografis (Durian Bhineka Bawor) Lindungi Varietas Unggulan Banyumas Banyumas…