Anak Kelas 5 SD Rawat Ibu yang Stroke

eportal.id, Jombang – Menunggui ibunya sepulang sekolah, menyuapi makanan 3 kali sehari, harus dijalani Muhammad Gunadiono (11), seorang murid kelas 5 sekolah dasar di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Gunadiono adalah murid SDN Gedongombo 2, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

Sejak 2 tahun lalu, ibunya hanya bisa terbaring di atas ranjang akibat stroke.

Sejak Gunadiono duduk di kelas 3, kaki dan tangan Umiati (46), ibunya, tidak bisa digerakkan. Mulut dan mata ibunya juga bermasalah akibat stroke.

Dia menuturkan, saat pagi sebelum berangkat ke sekolah, tugasnya adalah menyuapi makanan untuk ibunya. Itu juga dilakukan saat dirinya sampai di rumah sepulang sekolah.

Hal yang sama juga dilakukan Gunadiono saat petang. Bahkan, terkadang dia juga harus memandikan ibunya, terutama saat paman dan bibinya belum selesai bekerja.

Bersama ibunya, Gunadiono kini tinggal di rumah paman dan bibinya, Miran-Ngatini. Pasangan ini tinggal di Dusun Balongmojo Desa Gedongombo, Kecamatan Ploso.

Baca Juga:  Tri Rismaharini Bersujud di Kaki Dokter RSUD dr Soetomo, ini Penyebabnya

Sebelumnya, Gunadiono tinggal bersama neneknya di Dusun Balongdoro, Desa Kauman, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Sementara Umiati, ibu dari Gunadiono, bekerja mencari nafkah di Surabaya.

Saat awal duduk di kelas 3 SDN Gedongombo 2, nenek Gunadiono meninggal dunia. Dia pun terpaksa diboyong Miran, pamannya, untuk tinggal bersama.

Namun tak berselang lama, ibunya pulang dari Surabaya dalam kondisi sakit stroke. Ibu dari Gunadiono ini pun akhirnya ditampung di rumah Miran.

Derita Gunadiono kian lengkap dengan tidak adanya sosok ayah dalam kehidupannya. Ibunya tercatat dua kali menikah.

Suami pertama Umiati, meninggalkan dirinya saat Gunadiono masih balita. Lalu suami kedua, meninggalkannya saat Umiati terkena stroke.

“Keinginan saya ibu bisa segera sembuh,” ujar Gunadiono, bocah kelas 5 SD yang bercita-cita menjadi pilot ini.

Baca Juga:  Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda Kerapan Sapi Brujul Dan Tari Jaran Bodak Menambah Ikon Kepariwisataan Di Kota Probolinggo

Gunadiono diboyong Miran, pamannya, untuk tinggal di rumahnya di Dusun Balongmojo, Desa Gedongombo, Kecamatan Ploso, setelah nenek dari bocah itu meninggal dunia.

Secara administratif, Gunadiono dan ibunya merupakan warga Dusun Balongdoro, Desa Kauman, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.

Meski berbeda desa dan kecamatan, jarak antar rumah keduanya hanya berjarak sekitar 200 meter. Wilayah kedua dusun merupakan wilayah perbatasan antara Kecamatan Ploso dan Kecamatan Kabuh.

“Ini wilayah perbatasan, hanya dipisahkan oleh sungai. Rumah neneknya yang dekat perempatan tadi. Sudah berbeda desa,” kata Lasiman, Kepala Desa Gedongombo, Kecamatan Ploso.

Meski secara administratif masih tercatat sebagai penduduk desa tetangga, lanjut Lasiman, pihaknya tetap memantau dan memperhatikan kondisi Gunadiono dan ibunya.

Baca Juga:  Putus Penyebaran HPN 2021 Awak Media Bagikan Masker ke Pedagang Kaki Lima

Lasiman mengatakan, beberapa program pemenuhan kebutuhan dasar yang menjadi hak keluarga miskin, sudah didapatkan oleh Umiati dan Gunadiono.

Keluarga itu sudah memegang Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), serta Kartu Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).

“Sudah ada KIS, KIP sama BPNT. Sebenarnya kami sudah menyarankan agar dibawa berobat ke rumah sakit dan kami siapkan fasilitas ambulans desa, tapi kendala ada di keluarga,” ujar dia.

Miran mengamini penjelasan dari Lasiman, Kades Gedongombo. Adiknya sudah memiliki kartu berobat gratis dari pemerintah.

“(kendalanya) Kalau dibawa ke rumah sakit tidak ada yang jaga. Saya dan istri saya kerja, Gunadi (Gunadiono) juga harus sekolah,” katanya.

“Kalau nanti saya yang jaga (di rumah sakit), Gunadi di rumah tidak ada yang jaga,” tambah Ngatini, istri Miran. (kompas)

Kunjungi Juga

Launching Gerai Vaksin Drive Thru, Kapolres Probolinggo: Program Unggulan dan Akselerasi Vaksinasi

Probolinggo – Polres Probolinggo kembali membuat inovasi untuk mendukung percepatan vaksinasi dengan Gerai Vaksin Presisi …

Hari Santri Nasional VII Pegawai Pemkot Probolinggo 8 Hari Bersarung Dan Berjilbab

Probolinggo – Ada pemandangan unik seperti di suasana pondok pesantren di Hari Santri Nasional ke …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *