Banyumas – Di bawah cahaya lampu jalan raya Tiparkidul–Ajibarang, seorang pemuda tampak setia melayani pembeli jamu setiap sore. Dialah Jabul Rianto (33), warga Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, yang kini membuka warung jamu tradisional di Jalan Raya Tiparkidul.
Perjalanan usaha jamu Jabul bukanlah cerita instan. Ia memulai usaha ini sejak tahun 2017 di Cilegon, Banten, sebuah kawasan industri yang ramai oleh pekerja pabrik dan aktivitas pelabuhan. Dengan modal awal sekitar Rp9 juta, Jabul nekat berjualan jamu dan menetap, mengandalkan racikan tradisional yang ia pelajari dengan tekun.
“Namanya usaha, omset itu nggak tentu,” ujar Jabul. Dalam sehari, ia mengaku bisa memperoleh pemasukan sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, meski jumlah tersebut bisa naik turun tergantung kondisi dan jumlah pelanggan. “Ya kalau lagi rame, ada lebihnya, kalau sepi ya kurang,” katanya lugas.
Selama tujuh tahun berjualan di Cilegon, dari 2017 hingga 2024, usahanya perlahan berkembang. Kini, lapak jamu di Cilegon dilanjutkan oleh adik dan temannya. Sementara itu, Jabul memilih pulang kampung dan mencoba peruntungan baru di Desa Tioarkidul Kecamatan Ajibarang Banyumas.
Menurutnya, tantangan berjualan di kampung halaman cukup berbeda. Jika di kota industri pasar sangat dekat dengan pabrik dan pelabuhan, di desa jarak pasar dan jumlah konsumen lebih terbatas. “Perkembangannya memang agak cepat di kota. Kalau di kampung, ya kita tahu sendiri,” ungkapnya.
Warung jamu Jabul mulai buka setiap sore sekitar pukul 16.30 WIB hingga pukul 24.00 atau 01.00 dini hari. Saat ini, jumlah pelanggan masih tergolong sedikit karena usaha masih dalam tahap awal. “Rata-rata ya sekitar 10 orang per sore,” ujarnya.
Meski demikian, Jabul tetap optimistis. Ia percaya kunci utama usaha jamu terletak pada kualitas racikan dan pengetahuan tentang khasiat jamu itu sendiri. “Nomor satu kita harus tahu kualitas jamu dan tahu racikannya. Kalau sudah paham, insya Allah ada khasiatnya,” jelasnya.
Jenis jamu yang paling banyak diminati konsumen antara lain jamu untuk pegal-pegal, capek setelah kerja, masuk angin, asam urat, rematik, hingga jamu batuk. “Biasanya orang habis kerja, badan sakit-sakit, atau malam kena angin,” kata Jabul.
Di tengah keterbatasan dan persaingan, Jabul Rianto terus meracik bukan hanya jamu, tetapi juga harapan – bahwa dari kesabaran, ketekunan, dan segelas jamu tradisional, rezeki akan terus mengalir.
Alumni ITB 1975 Sambangi Kebun Durian Bhinneka Bawor Banyumas, Bukti Durian Lokal Kian Mendunia Banyumas…
Kapolda Sulsel Kunjungi Polres Pangkep, Pimpin Apel Arahan dan Beri Apresiasi Personel Berprestasi Pangkep —…
Kepadatan Kapal di Pelabuhan Muara Angke Picu Keluhan Pengusaha, Polisi dan UPPP Lakukan Penertiban Jakarta…
Audit Inspektorat Dipersoalkan, Kades Klapagading Kulon Temui Gubernur Semarang — Kepala Desa Klapagading Kulon, Kecamatan…
Perkembangan geopolitik dunia memasuki babak baru, dengan semakin berkembangnya teknologi informasi (TI) yang memasuki fase…
Dinas Daftarkan Hak Kekayaan Intelektual, Indikasi Geografis (Durian Bhineka Bawor) Lindungi Varietas Unggulan Banyumas Banyumas…