Ritual ini berlangsung khidmat dan meriah sebagai bentuk rasa syukur terhadap alam semesta.
Setiap tahunnya, tradisi ini diadakan pada tanggal 5 bulan Suro dalam kalender Jawa.
Gunungan hasil bumi dan tumpeng raksasa diarak sepanjang dua kilometer dari kantor kecamatan menuju Padepokan Wali Songo Majelis Sholawat Nariyah. Iring-iringan ini dilengkapi dengan pasukan berkuda, seni tradisional jaran kencak, serta irama musik khas Madura yang dimainkan di atas kereta mini oleh anak-anak yatim piatu.
Tujuan utama ritual ini adalah memohon keselamatan dan keberkahan dari Sang Pencipta, sekaligus mengusung harapan agar bumi tetap subur serta terhindar dari bencana.
“Ini adalah bentuk rasa syukur kami kepada Tuhan. Kita berdoa agar bumi selalu memberikan yang terbaik bagi manusia dan dunia segera terbebas dari peperangan,” ucap Kyai Ahmad Kusnadi, pengasuh Padepokan Wali Songo Kalimosodo, saat memimpin doa bersama. Minggu malam (29/06/2025).
Salah satu momen yang paling dinanti adalah saat warga berebut hasil bumi dari gunungan raksasa. Sayur-mayur, gabah, hingga lembaran uang diserbu warga, yang percaya bahwa membawa pulang sebagian dari gunungan akan mendatangkan berkah dan keselamatan.
“Ikut rebutan memang rame, tapi seru. Alhamdulillah dapat banyak sayuran, nanti kami masak bersama keluarga. Ini dipercaya bisa mendatangkan keberkahan,” ujar Tati Suryani (40), warga setempat.
Rangkaian acara ditutup dengan pemberian santunan kepada anak yatim piatu, disertai lantunan musik religi oleh para santri. Lebih dari sekadar perayaan budaya, Grebek Suro di Curah Grinting menjadi simbol kuat spiritualitas masyarakat dan seruan untuk hidup harmonis dengan alam dan sesama manusia.












