Categories: Biro MakassarRefleksi

Memaknai G30S: Akhlak, Generasi Muda, dan Cermin Sejarah

Memaknai G30S: Akhlak, Generasi Muda, dan Cermin Sejarah

Sejarah adalah guru yang paling setia. Ia tidak pernah lelah mengulang pesan, meski manusia sering kali abai mendengarkan. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) menjadi salah satu episode kelam bangsa Indonesia.

Banyak darah tertumpah, banyak keluarga kehilangan, dan banyak luka sosial yang meninggalkan trauma hingga hari ini. Namun, memaknai G30S tidak cukup hanya dengan meneliti dokumen, menonton film dokumenter, atau mendengarkan pidato. Ada sisi lain yang sering terlewat: bagaimana generasi muda belajar akhlak dari sejarah itu.

Bila anak-anak muda memahami arti akhlak, mereka tidak akan mudah terjebak dalam kebencian, adu domba, atau sikap sembrono terhadap bangsa sendiri. Mereka akan tahu cara membedakan yang tua dan yang muda, tahu bagaimana memberi hormat, tahu kapan harus belajar dan kapan harus memimpin, serta tahu bagaimana menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Inilah cermin utama dari tragedi G30S: betapa rapuhnya bangsa ketika akhlak tidak dijadikan fondasi.

G30S sering diperdebatkan: siapa dalang, bagaimana detailnya, dan siapa yang paling banyak diuntungkan dari tragedi itu. Tapi di luar kontroversi politik, ada fakta sederhana yang tak terbantahkan: kekerasan selalu berujung pada kehilangan. Nyawa para jenderal, para prajurit, hingga rakyat sipil yang ikut terseret, semuanya adalah korban dari runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan.

Jika generasi muda hanya memandang G30S sebagai catatan politik, mereka mungkin akan mengulang kesalahan serupa dalam bentuk baru: pertengkaran di media sosial, polarisasi politik, atau bahkan konflik horizontal. Tetapi bila mereka memandangnya sebagai peringatan moral, mereka akan belajar bahwa perbedaan ideologi tidak boleh menghapus rasa kemanusiaan.

Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari luas wilayah atau banyaknya sumber daya alam, melainkan dari akhlak warganya. Akhlak menjadi tiang utama peradaban. Rasulullah SAW sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak, karena tanpa akhlak, ilmu pun bisa menjadi alat perpecahan.

Tragedi G30S menunjukkan bahwa ketika manusia kehilangan akhlak, yang tersisa hanyalah kerakusan dan kekerasan. Mereka lupa bahwa menghormati yang tua adalah bagian dari kearifan, dan menyayangi yang muda adalah bagian dari kemanusiaan.

Generasi muda harus belajar: tidak cukup hanya cerdas secara akademis, mereka juga harus bijaksana dalam memperlakukan sesama.
Menghormati guru, misalnya, bukan hanya soal menyapa dengan sopan, tetapi juga menempatkan ilmu pada tempat yang mulia.

Menghargai orang tua bukan hanya dengan panggilan, tetapi juga dengan mendengarkan pengalaman hidup mereka sebagai warisan. Menyayangi yang muda bukan hanya dengan melindungi, tetapi juga memberi teladan yang baik. Semua ini adalah bagian dari akhlak yang mampu mencegah lahirnya kekerasan sosial.

Anak muda hari ini hidup dalam dunia digital. Informasi beredar begitu cepat, opini berseliweran, dan siapa pun bisa menjadi komentator. Tapi justru di sinilah tantangan akhlak paling besar.

Dulu, senjata adalah bambu runcing atau senapan. Kini, senjata bisa berupa kata-kata di layar ponsel. Fitnah, hoaks, dan ujaran kebencian menyebar lebih cepat daripada peluru. Bila tidak dibentengi dengan akhlak, generasi muda bisa jatuh ke dalam perang yang sama bahayanya dengan konflik bersenjata.

Maka, memaknai G30S berarti belajar untuk tidak mengulang kebodohan. Generasi muda harus sadar bahwa menghormati yang tua bukan sekadar formalitas, melainkan jalan untuk meraih kebijaksanaan. Mereka yang berpengalaman adalah sumber ilmu yang tak tergantikan. Sementara memperlakukan sesama dengan adil dan penuh kasih adalah cara membangun masa depan yang damai.

Sikap arif bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja. Ia dibangun dari latihan akhlak sehari-hari: belajar menahan diri, mendengarkan orang lain, dan memikirkan akibat sebelum bertindak. Tragedi G30S memberi pesan bahwa tanpa sikap arif, bangsa bisa terpecah oleh ambisi.

Anak muda masa kini harus berani melawan arus kebencian. Misalnya, ketika melihat perdebatan politik yang memanas, mereka tidak ikut-ikutan menghina, tetapi mencoba memberi pandangan yang menyejukkan.

Ketika melihat senior, mereka tidak merasa rendah, melainkan berusaha belajar. Ketika melihat junior, mereka tidak merasa lebih berkuasa, melainkan memberi teladan. Inilah bentuk nyata dari memaknai G30S: menjadikan sejarah sebagai guru untuk hidup arif.

Bangsa yang lupa sejarah akan mudah dipecah. Karena itu, setiap tanggal 30 September dan 1 Oktober, kita memperingati G30S dan Hari Kesaktian Pancasila. Namun, peringatan itu tidak boleh hanya menjadi seremoni. Ia harus hidup dalam ingatan kolektif kita sebagai bangsa.

Generasi muda bisa memaknainya dengan berbagai cara: membaca buku sejarah, berdiskusi di sekolah atau kampus, membuat karya seni yang mencerminkan perdamaian, atau sekadar menuliskan refleksi pribadi di media sosial. Dengan begitu, sejarah tidak hanya tersimpan di arsip, tetapi juga hidup dalam keseharian.

Pancasila lahir sebagai dasar negara yang mempersatukan perbedaan. Tetapi Pancasila hanya bisa hidup jika didukung oleh akhlak. Sila pertama mengajarkan ketuhanan, yang berarti setiap tindakan harus berlandaskan nilai moral. Sila kedua tentang kemanusiaan menuntut kita untuk menolak kekerasan. Sila ketiga tentang persatuan bangsa menolak segala bentuk perpecahan.

Jika anak-anak muda memahami bahwa Pancasila adalah manifestasi akhlak, mereka tidak akan mudah diprovokasi. Mereka akan tahu bagaimana menjaga persatuan di tengah perbedaan. Mereka akan paham bahwa menjadi muda bukan alasan untuk bertindak semaunya, melainkan kesempatan untuk menunjukkan akhlak mulia yang menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Memaknai G30S bukan hanya soal mengingat sejarah, tetapi juga belajar akhlak dari peristiwa kelam itu. Anak muda harus tahu bagaimana menghormati yang tua, menyayangi yang muda, serta menempatkan diri secara arif dalam kehidupan.

Sejarah G30S memberi pelajaran berharga: kekerasan lahir ketika akhlak ditinggalkan. Maka, tugas generasi muda saat ini adalah menghidupkan kembali nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari—baik di rumah, di sekolah, di media sosial, maupun dalam pergaulan bangsa. Dengan begitu, tragedi kelam itu tidak akan terulang, dan bangsa Indonesia bisa melangkah maju dengan penuh kebijaksanaan.

 

Sukma Paramita

Recent Posts

Alumni ITB 1975 Sambangi Kebun Durian Bhinneka Bawor Banyumas, Bukti Durian Lokal Kian Mendunia

Alumni ITB 1975 Sambangi Kebun Durian Bhinneka Bawor Banyumas, Bukti Durian Lokal Kian Mendunia Banyumas…

7 jam ago

Kapolda Sulsel Kunjungi Polres Pangkep, Pimpin Apel Arahan dan Beri Apresiasi Personel Berprestasi

Kapolda Sulsel Kunjungi Polres Pangkep, Pimpin Apel Arahan dan Beri Apresiasi Personel Berprestasi Pangkep —…

7 jam ago

Kepadatan Kapal di Pelabuhan Muara Angke Picu Keluhan Pengusaha, Polisi dan UPPP Lakukan Penertiban

Kepadatan Kapal di Pelabuhan Muara Angke Picu Keluhan Pengusaha, Polisi dan UPPP Lakukan Penertiban Jakarta…

9 jam ago

Audit Inspektorat Dipersoalkan, Kades Klapagading Kulon Temui Gubernur

Audit Inspektorat Dipersoalkan, Kades Klapagading Kulon Temui Gubernur Semarang — Kepala Desa Klapagading Kulon, Kecamatan…

11 jam ago

Teknologi Jaringan, Pergeseran Wilayah Geopolitik Baru Dan Posisi Strategis Indonesia

Perkembangan geopolitik dunia memasuki babak baru, dengan semakin berkembangnya teknologi informasi (TI) yang memasuki fase…

17 jam ago

Dinas Daftarkan Hak Kekayaan Intelektual, Indikasi Geografis(Durian Bhineka Bawor) Lindungi Varietas Unggulan Banyumas

Dinas Daftarkan Hak Kekayaan Intelektual, Indikasi Geografis (Durian Bhineka Bawor) Lindungi Varietas Unggulan Banyumas Banyumas…

1 hari ago