Observasi BPCB, Kades Tulungrejo Sebut Pelurusan Asumsi di Atas Asumsi. (foto: Dodik)
Observasi BPCB, Kades Tulungrejo Sebut Pelurusan Asumsi di Atas Asumsi. (foto: Dodik)

Observasi BPCB, Kades Tulungrejo Sebut Pelurusan Asumsi di Atas Asumsi

eportal.id, MalangĀ – Beberapa objek di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, didatangi BPCB Jatim, untuk dilakukan observasi, terkait laporan keberadaan benda-benda purbakala.

Kades Tulungrejo, Muliadi merasa lega atas kedatangan Wicaksono, arkeolog BPCB Jatim bersama Bondan Jawan dari pemerhati budaya.

Observasi itu sendiri dilakukan di 4 lokasi berbeda, yaitu batu bata kuno diduga candi di Dusun Gagar, batu bata kuno bertuliskan tahun di Dusun Gagar, arca kuno di Dusun Ganten, dan lumpang di Dusun Gagar.

Observasi BPCB, Kades Tulungrejo Sebut Pelurusan Asumsi di Atas Asumsi. (foto: Dodik)
Observasi BPCB, Kades Tulungrejo Sebut Pelurusan Asumsi di Atas Asumsi. (foto: Dodik)

Observasi pertama dilakukan di areal perbukitan di Dusun Gagar. Banyak batu bata kuno terbuat dari andesit berserakan dari atas dan di bawahnya.

Dugaan batu bata kuno di bukit tersebut bagian dari bangunan candi, ia menjelaskan, dugaan kearah itu ada benarnya, karena batu bata kuno tersebut teridentifikasi komponen dari candi.

Baca Juga:  Temu Mayat Membusuk Hebohkan Warga Desa Di Probolinggo, Polisi Selidiki

Observasi kedua terfokus objek arca yang terletak di Dusun Ganten. Arca tersebut adalah tokoh di daerah itu, namun perwujudannya Dewa Brahma, dengan ciri khas membawa camara dibelakang tangan kanan, dan teratai dibelakang tangan kiri, namun bermuka 1, sedangkan Dewa Brahma pada umumnya bermuka 4.

Observasi ketiga tertuju pada batu kuno berwujud lumpang di Dusun Gagar. Perwujudan itu menunjukkan adanya pemukiman kuno di sekitar lokasi penemuan.

Observasi berakhir di punden Dusun Gagar, yaitu batu bata kuno berciri tulisan jawa kuno. Ada 4 blok pada batu kuno itu, blok 1 tidak terbaca, blok 2 terbaca angka 6, blok 3 terbaca angka 3 dan blok 4 terbaca angka 1.

Observasi BPCB, Kades Tulungrejo Sebut Pelurusan Asumsi di Atas Asumsi. (foto: Dodik)
Observasi BPCB, Kades Tulungrejo Sebut Pelurusan Asumsi di Atas Asumsi. (foto: Dodik)

Diduga batu kuno tersebut dibuat pada masa Majapahit, pernyataan itu merujuk pada 136x Saka atau bertarikh 1438 Masehi hingga 1448 Masehi, karena blok pertama tidak terbaca.

Baca Juga:  Babinsa Koramil 0820/04 Bantaran Gencar Tegakkan Disiplin Protokol Kesehatan

“Sebelumnya, kita punya asumsi sendiri, ternyata banyak yang keliru. Bisa dimaklumi kalau kita keliru, karena pengetahuan kita untuk urusan purbakala sangat minim,” ungkap Muliadi.

Dijelaskannya, dugaan arca yang dianggap sebagai Dewa Wisnu dan Bhatara Guru, ternyata meleset, usai mendapat penjelasan dari BPCB.

Demikian juga benda yang sebelumnya diduga prasasti, ternyata hanya tulisan angka jawa kuno yang menunjukkan tahun saka.

Selain itu, ada benda lumpang yang berlokasi tidak jauh dari candi, sebelumnya diduga batu kuno lingga.

Sama halnya tumpukan batu kuno di atas bukit, ternyata masih dibutuhkan bukti otentik berwujud tatanan batu dengan tempat yang original atau belum berpindah tempat.

“Sebelumnya memang semua asumsi kita mengacu pada dugaan, kita tidak pernah memastikannya, karena kita tahu, untuk urusan purbakala itu yang paling valid bersumber dari BPCB,” kata Muliadi.

Baca Juga:  Diadukan Karena Gelar Tarawih di Tengah Pandemi Corona, Remaja Rusak Rumah Warga

Ia mengakui, untuk urusan sejarah pertempuran Ganter atau “The Battle Of Ganter”, selalu berpedoman pada Kitab Pararaton, karena dianggap lebih lengkap penjelasannya dibanding Kakawin Negarakertagama.

Walaupun demikian, keduanya tetap dianggap Muliadi sebagai “Kitab Babon Nusantara”.

Observasi BPCB, Kades Tulungrejo Sebut Pelurusan Asumsi di Atas Asumsi. (foto: Dodik)
Observasi BPCB, Kades Tulungrejo Sebut Pelurusan Asumsi di Atas Asumsi. (foto: Dodik)

Sementara itu, Wicaksono menuturkan,”Dilihat konturnya, Tulungrejo ini dilewati jalur purba, dari arah Dhaha atau Panjalu menuju Tumapel atau Singosari, kalau jaman sekarang Kediri ke Malang”.

Ia berharap warga Desa Tulungrejo memanfaatkan kelebihan historis dan geografis jalur purba. Ada peluang yang harus di perhatikan, khususnya berkaitan dengan pemanfaatan tersebut.

Sementara itu, Bondan Jawan mengatakan,”Harapan saya kepada warga disini, bisa mengembangkan potensi disekitarnya, pembangunannya, sumber dayanya. Tulungrejo ini dulunya sangat maju, kalau tidak maju, tidak mungkin ada situs-situs yang kita lihat itu”. (dodik)

Kunjungi Juga

Pasar murah AGP memperkenalkan pembelian sembako bersubsidi dengan menggunakan QRIS

Pasar murah AGP memperkenalkan pembelian sembako bersubsidi dengan menggunakan QRIS

Pasar murah sembako menjadi salah satu program Yayasan Artha Graha Peduli yang dilakukan sepanjang waktu …

Erick Thohir Dapat Dukungan Ribuan Petani Tergabung Komunitas Petani Probolinggo Bersatu Maju Capres RI 2024

Probolinggo – Ratusan Komunitas Petani Kabupaten Probolinggo, deklarasi dukung Erick Thohir maju sebagai calon Presiden …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *