Categories: News

Pasar Murah Door to Door (D2D): Memperpendek Rantai Distribusi

Oleh Heka Hertanto (Praktisi CSR)

Harga kebutuhan pokok dapat melonjak antara lain karena rantai distribusi yang panjang dan berlapis. Semakin banyak mata rantai yang terlibat, semakin besar biaya yang harus ditanggung hingga akhirnya dibebankan kepada konsumen. Setiap perpindahan barang dari satu pelaku ke pelaku lain menambah ongkos distribusi yang berdampak langsung pada harga jual di tingkat masyarakat.

Untuk menekan biaya tersebut, Artha Graha Peduli (AGP) melakukan pemangkasan rantai distribusi dengan membeli langsung dari produsen dan menyalurkan paket sembako bersubsidi secara langsung kepada masyarakat. Perlakuan khusus diberikan kepada kelompok rentan, seperti lansia, warga yang sakit, dan masyarakat dengan keterbatasan mobilitas.

Sejak 11 Desember 2025, AGP menerapkan sistem door to door (D2D) melalui program Pasar Murah yang menjangkau sekitar 800 titik di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah operasional unit usaha Artha Graha Network. Ratusan ribu paket sembako bersubsidi disalurkan secara langsung sebagai bentuk dukungan nyata dalam menjaga stabilitas harga pangan sekaligus membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar secara layak.

Melalui pola D2D, sembako bersubsidi diantar langsung ke rumah warga, terutama di tengah tren kenaikan harga pangan menjelang akhir tahun 2025. Program ini menjadi salah satu solusi konkret dalam meredam inflasi pangan, dengan menyalurkan paket beras, gula, dan minyak goreng melalui jaringan unit usaha Artha Graha Group.

Sistem Pasar Murah D2D sejatinya bukan hal baru. Pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020, ketika pembatasan sosial diberlakukan dan warga tidak memungkinkan berkerumun di pasar, model distribusi tertutup atau D2D telah diterapkan sebagai solusi. Pemerintah saat itu menggelar pasar murah bersubsidi agar masyarakat tetap memperoleh kebutuhan pokok tanpa harus keluar rumah.

Dalam konteks saat ini, Pasar Murah AGP hadir sebagai inisiatif sosial yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Program ini tidak sekadar menyalurkan sembako, melainkan menjadi bagian dari strategi perlindungan daya beli warga. Melalui skema subsidi, masyarakat dapat mengakses bahan pangan strategis dengan harga di bawah pasaran, sehingga mampu menjaga stabilitas pengeluaran rumah tangga.

Di tengah tekanan ekonomi, pasar murah berfungsi sebagai bantalan sosial yang membantu keluarga mengelola pengeluaran secara lebih terkendali. Selain manfaat ekonomi langsung, program ini juga memberikan rasa aman terhadap ketersediaan pangan di tengah fluktuasi harga pasar.

Dari sisi makro, pasar murah berkontribusi dalam mendukung stabilisasi harga pangan dan sejalan dengan upaya pemerintah mengendalikan inflasi. Distribusi langsung kepada masyarakat meminimalkan hambatan rantai pasok dan memastikan bantuan diterima tepat waktu serta tepat sasaran, khususnya di wilayah sekitar unit usaha Artha Graha Network.

Manajemen AGP menetapkan tujuan Pasar Murah AGP untuk menjaga stabilitas harga pangan, memperkuat daya beli masyarakat rentan, dan memastikan akses pangan yang terjangkau, sejalan dengan kebijakan pemerintah. Metode D2D dipilih untuk menjangkau kelompok yang paling membutuhkan, dengan paket berisi beras, gula, dan minyak goreng. Program ini dilaksanakan menjelang akhir tahun sebagai respons atas potensi lonjakan harga pangan, dengan dampak nyata berupa berkurangnya beban pengeluaran keluarga dan meningkatnya ketahanan ekonomi rumah tangga.

Pasar Murah AGP juga merupakan bentuk dukungan konkret terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pentingnya sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Kolaborasi seluruh unit usaha AGN dan relawan menjadikan pasar murah sebagai penyangga stabilitas harga di berbagai daerah.

Subsidi yang diberikan AGP melalui pasar murah menjadi pengungkit daya bangkit ekonomi masyarakat menengah bawah. Melalui sistem D2D, warga memperoleh sembako bersubsidi dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasar. Pasar murah terbukti menjadi katup pengaman sosial yang meredam keresahan masyarakat. Kehadiran negara dan dukungan sektor swasta menjadi instrumen penting dalam menjaga daya beli warga.

Perdebatan mengenai subsidi pasar murah kerap muncul, khususnya terkait kekhawatiran terhadap ketergantungan dan distorsi pasar. Kritik tersebut menyoroti potensi melemahnya inisiatif mandiri, ketidakefisienan alokasi sumber daya, serta dampak terhadap produsen lokal.

Namun, pandangan tersebut juga memiliki sanggahan kuat. Bagi masyarakat miskin, subsidi pasar murah merupakan jaring pengaman vital untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tanpa stabilitas pangan, sulit berbicara tentang pemberdayaan dan daya bangkit. Selain itu, kemiskinan sering kali dipicu oleh faktor struktural seperti keterbatasan lapangan kerja dan akses pendidikan, yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui usaha individu.

Karena itu, hubungan antara subsidi pasar murah dan daya bangkit masyarakat bersifat kompleks. Efektivitas bantuan sosial sangat bergantung pada desain program dan keterpaduannya dengan kebijakan pemberdayaan ekonomi jangka panjang.

Di tengah perdebatan yang sering berlangsung di ruang-ruang diskusi formal, kebutuhan dasar masyarakat tidak dapat ditunda. Pemenuhan hak atas pangan menjadi kunci untuk mencegah patologi sosial, seperti kriminalitas dan menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah. Inilah alasan pemerintah dan berbagai pihak terus menggelar pasar murah sebagai bukti nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.

Pasar murah diselenggarakan oleh berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah melalui kementerian terkait dan Bulog, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, hingga perusahaan swasta dan BUMN sebagai bagian dari program CSR. Kelompok tani dan pelaku UMKM pun turut berperan dengan menjual produk langsung ke konsumen guna memotong rantai distribusi.

Tidak semua warga mampu mendatangi lokasi pasar murah karena keterbatasan fisik dan sosial. Kehadiran Pasar Murah AGP dengan pola D2D menjadi penanda bahwa sektor swasta turut hadir, peduli, dan sepenanggungan dengan masyarakat. Melalui data warga prioritas dan sentuhan langsung relawan, AGP memastikan bahwa lansia, warga sakit, dan penyandang disabilitas tidak merasa sendiri dan tidak pernah dilupakan.

Bagas

Recent Posts

Alumni ITB 1975 Sambangi Kebun Durian Bhinneka Bawor Banyumas, Bukti Durian Lokal Kian Mendunia

Alumni ITB 1975 Sambangi Kebun Durian Bhinneka Bawor Banyumas, Bukti Durian Lokal Kian Mendunia Banyumas…

14 jam ago

Kapolda Sulsel Kunjungi Polres Pangkep, Pimpin Apel Arahan dan Beri Apresiasi Personel Berprestasi

Kapolda Sulsel Kunjungi Polres Pangkep, Pimpin Apel Arahan dan Beri Apresiasi Personel Berprestasi Pangkep —…

14 jam ago

Kepadatan Kapal di Pelabuhan Muara Angke Picu Keluhan Pengusaha, Polisi dan UPPP Lakukan Penertiban

Kepadatan Kapal di Pelabuhan Muara Angke Picu Keluhan Pengusaha, Polisi dan UPPP Lakukan Penertiban Jakarta…

16 jam ago

Audit Inspektorat Dipersoalkan, Kades Klapagading Kulon Temui Gubernur

Audit Inspektorat Dipersoalkan, Kades Klapagading Kulon Temui Gubernur Semarang — Kepala Desa Klapagading Kulon, Kecamatan…

18 jam ago

Teknologi Jaringan, Pergeseran Wilayah Geopolitik Baru Dan Posisi Strategis Indonesia

Perkembangan geopolitik dunia memasuki babak baru, dengan semakin berkembangnya teknologi informasi (TI) yang memasuki fase…

1 hari ago

Dinas Daftarkan Hak Kekayaan Intelektual, Indikasi Geografis(Durian Bhineka Bawor) Lindungi Varietas Unggulan Banyumas

Dinas Daftarkan Hak Kekayaan Intelektual, Indikasi Geografis (Durian Bhineka Bawor) Lindungi Varietas Unggulan Banyumas Banyumas…

2 hari ago