Retret Kepemimpinan dari Tabo-Tabo: Pangkep Hebat , Indonesia Siap Berubah
Oleh: Sukma Paramita
Ketua Bidang Organisasi PWI Pangkep
Dalam banyak narasi pembangunan, kepala desa sering dibebani harapan tanpa diberi ruang untuk bertumbuh. Mereka dituntut agar transparan, visioner, cepat tanggap, dan kuat dalam mengambil keputusan. Tapi, pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah: siapa yang membentuk mereka menjadi seperti itu?
Sebagai redaktur media lokal yang intens mengikuti dinamika pemerintahan desa dan sebagai pengurus organisasi kewartawanan, saya percaya bahwa kekuatan seorang pemimpin desa tidak hanya ditentukan oleh jabatan administratif, tetapi oleh kualitas jiwanya dalam memimpin.
Retret kepala desa yang digelar di KHDTK Tabo-Tabo, Pangkep, adalah jawaban dari pertanyaan di atas. Jauh dari suasana birokratis, kepala desa diajak kembali pada hal yang paling mendasar: kedisiplinan, pengendalian diri, dan refleksi atas tanggung jawab yang mereka emban.
Dengan pendekatan militeristik yang lembut, spiritual yang mendalam, dan pengaturan waktu yang tegas, para pemimpin desa ini digembleng dalam suasana yang sunyi namun kuat.
Apa yang terjadi di sana bukan sekadar orientasi. Tapi penguatan karakter, penjernihan orientasi batin, dan penanaman ulang kesadaran peran sebagai pemimpin rakyat kecil. Tidak ada kemewahan, yang ada justru kejujuran atas diri sendiri.
Kita sudah terlalu lama menyebut kegiatan pembinaan sebagai “pelatihan teknis” yang sering hanya diisi materi searah. Tapi di Tabo-Tabo, pendekatannya lebih menyentuh sisi manusia: tubuh mereka dilatih, pikiran mereka diarahkan, dan jiwa mereka diajak untuk mendengar kembali suara nurani.
Saya menyebutnya bukan pelatihan, tapi perjalanan pembentukan pemimpin yang utuh.
Gambaran ini mengingatkan saya pada sebuah pendekatan luar biasa dari Kang Dedi Mulyadi, tokoh dari Jawa Barat yang melakukan retret mental bagi anak-anak yang dicap nakal, dianggap “sampah”, dan diasingkan oleh lingkungannya. Kang Dedi justru merangkul mereka, memberi harapan baru, dan membentuk ulang kepercayaan diri mereka dengan cinta dan ketegasan.
Jika di Cianjur ada Kang Dedi dengan program untuk membina siswa terpinggirkan, maka Pangkep hari ini menunjukkan bahwa retret pembinaan juga dibutuhkan oleh para pemimpin desa.
Satu menyentuh generasi muda yang dilabeli gagal. Satu lagi menyentuh pemimpin yang dilabeli berhasil, tapi belum tentu dibekali.
Saya membayangkan, suatu hari nanti, dua pendekatan ini bertemu dalam satu panggung besar nasional. Program Kang Dedi bisa menginspirasi Pangkep. Begitu pula sebaliknya, Pangkep memberi inspirasi bagi Jawa Barat dan daerah lain.
Retret kepala desa ini juga selaras dengan semangat Komponen Cadangan (Komcad)—program bela negara yang digaungkan pemerintah pusat.
Jika Komcad mempersiapkan warga negara secara fisik dan mental untuk menghadapi tantangan kedaulatan, maka retret ini mempersiapkan pemimpin akar rumput agar memiliki kedisiplinan, loyalitas, dan keberanian moral.
Saya membayangkan bila retret seperti ini dikembangkan di berbagai daerah dan diselaraskan dengan pelatihan Komcad, maka Indonesia akan memiliki pemimpin desa yang bukan hanya siap kerja, tapi juga siap bela bangsa.
Akan sangat disayangkan jika kegiatan ini berhenti pada satu kali pelaksanaan. Retret seperti ini harus menjadi sistem pembinaan kepala desa yang terjadwal rutin, dan didukung penuh oleh pemerintah daerah dan pusat. Tidak semua pembentukan karakter bisa dilakukan dalam satu forum. Tapi satu forum yang baik bisa menjadi awal perubahan besar.
Kepala desa tidak hanya butuh aturan. Mereka butuh teladan, pendampingan, dan pengalaman bersama yang membentuk ulang cara mereka memimpin, melayani, dan mendengar rakyat.
Sebagai jurnalis dan warga Pangkep, saya melihat sendiri bahwa apa yang terjadi di Tabo-Tabo bukan hal biasa. Ini adalah energi perubahan yang tumbuh dari pinggiran. Sunyi, tapi menyala. Kecil, tapi berdampak panjang.
Jika bangsa ini ingin berubah, maka perubahan itu harus dimulai dari para pemimpinnya. Dan pemimpin terbaik, bukan hanya mereka yang cerdas, tapi yang sanggup jujur pada dirinya sendiri.
Dari Tabo-Tabo, kita belajar, bahwa membina kepala desa dengan hati dan kedisiplinan adalah jalan sunyi menuju Indonesia yang lebih kokoh dari akar.
Tentang Penulis:
Sukma Paramita adalah Ketua Bidang Organisasi PWI Pangkep. Ia aktif dalam literasi publik, isu sosial, pendidikan, dan pembangunan karakter di daerah.
Alumni ITB 1975 Sambangi Kebun Durian Bhinneka Bawor Banyumas, Bukti Durian Lokal Kian Mendunia Banyumas…
Kapolda Sulsel Kunjungi Polres Pangkep, Pimpin Apel Arahan dan Beri Apresiasi Personel Berprestasi Pangkep —…
Kepadatan Kapal di Pelabuhan Muara Angke Picu Keluhan Pengusaha, Polisi dan UPPP Lakukan Penertiban Jakarta…
Audit Inspektorat Dipersoalkan, Kades Klapagading Kulon Temui Gubernur Semarang — Kepala Desa Klapagading Kulon, Kecamatan…
Perkembangan geopolitik dunia memasuki babak baru, dengan semakin berkembangnya teknologi informasi (TI) yang memasuki fase…
Dinas Daftarkan Hak Kekayaan Intelektual, Indikasi Geografis (Durian Bhineka Bawor) Lindungi Varietas Unggulan Banyumas Banyumas…