Tradisi Mallanca, Tradisi Adu Betis yang Unik di Sulawesi Selatan
Tradisi Mallanca, Tradisi Adu Betis yang Unik di Sulawesi Selatan. (Foto: istimewa)

Tradisi Mallanca, Tradisi Adu Betis yang Unik di Sulawesi Selatan

eportal.id, Tana Toraja – Indonesia dikenal sebagai negara yang multikultural. Salah satu contoh budaya yang unik di Indonesia adalah adu betis atau Mallanca. Adu betis biasanya dilakukan oleh masyarakat Bugis, Makassar, dan Toraja di Sulawesi Selatan.

Tradisi ini memang sangat unik bagi kita yang memang bukan bagian dari masyarakat pendukungnya. Bagaimana tidak! ini adalah Tradisi Adu Betis, dimana setiap lelaki saling unjuk kekuatan mengadu betis mereka.

Digelar pada setiap masa panen tiba, sehingga bisa dikatakan bahwa inilah cara mereka untuk bergembira pasca panen. Umumnya masa itu terjadi di bulan Agustus dan bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI.

Pada dasarnya, tradisi ini adalah bagian dari serangkaian pesta tahunan untuk merayakan masa panen. Selain adu betis, ada juga upacara tumbuk padi (akdengka ase lolo) dan sepak takraw (paraga).

Baca Juga:  Wanita Suku Karen, Suku Leher Terpanjang Di Dunia

Dengan antusias, baik yang tua maupun yang muda turut berpartisipasi dalam permainan ini. Menariknya lagi, permainan rakyat ini digelar di sebuah pemakaman yang dikeramatkan oleh mereka. Pemakaman tersebut diyakini sebagai makam Gallarang Moncongloe, leluhur desa yang sekaligus paman dari Raja Gowa, Sultan Alauddin.

Dalam pelaksanaannya, permainan ini akan melibatkan dua tim yang masing-masing terdiri dari dua orang. Dua orang menjadi penendang, sementara dua orang lainnya memasang kuda-kuda untuk memastikan tidak limbung saat betisnya di hantam kaki lawan.

Untuk menjadi kuat, banyak peserta yang mengaku menjampi-jampi betis mereka sebelum berpartisipasi dalam permainan ini. Tidak jarang yang mengeluh keseleo usai pertandingan, namun tentu saja mereka tidak kapok.

Baca Juga:  Paras Cantik Goa Koo, Satu Dari Seribu Goa di Buteng Sultra

Di dalam tradisi Mallanca terdapat beberapa kelompok yang berbentuk lingkaran besar yang kemudian akan saling mempertarungkan betis mereka. Selain dilakukan sebagai ucapan syukur seusai panen, tradisi Mallanca juga dilakukan untuk mengingat jasa leluhur mereka yang telah menjaga Kerajaan Gowa untuk generasi penerus mereka.

Meskipun tradisi Mallanca ini terlihat seperti adu kekuatan dimana akana da satu pemenang di antara mereka, tradisi ini ternyata bukan sebuah lomba. Tidak ada seorang pemenang pada tradisi ini, karena hanya bertujuan untuk menunjukkan kekuatan peserta.

Selain menjadi acara kegembiraan, atraksi adu betis bersama dengan acara lainnya juga memiliki makna tersendiri. Pesta panen tahunan adalah acara akbar dimana segala pendanaan ditanggung bersama secara gotong royong mengumpulkan gabah dan uang.

Baca Juga:  Pawon Sewu Peninggalan Peradaban Kejayaan Raja-Raja Jawa, Fakta atau Mitos?

Permainan adu betis sendiri lebih menonjolkan nilai patriotisme, solidaritas, serta kebersamaan. Jadi, tidak ada yang disebut pemenang dalam permainan ini. Nilai-nilai tersebut telah mewakili kearifan lokal, sehingga tradisi ini tetap dipertahankan hingga saat ini. (rnd)

Kunjungi Juga

Bendera Merah Putih Robek dan Lusuh, Danramil Amuk Kepala Desa. (ilustrasi istimewa)

Heboh, Empat Ibu Gunting Bendera Merah Putih di Sumedang

eportal.id, Sumedang – Video aksi empat ibu di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, merusak bendera Merah …

Ultah ke 42 FKPPI Probolinggo Bagikan Sembako Ke Kaum Dhuafa Dan Abang Becak

Probolinggo – Di Ultahnya ke 42 tahun, Forum Komunikasi Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI) Probolinggo, bagikan 300 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *