Tradisi Marosok, Cara Jual Beli Ternak Ala Masyarakat Minang
Tradisi Marosok, Cara Jual Beli Ternak Ala Masyarakat Minang. (foto: antarafoto)

Tradisi Marosok, Cara Jual Beli Ternak Ala Masyarakat Minang

eportal.id, Padang – Bumi pertiwi Indonesia memang kaya akan beragam budaya dan tradisi. Seperti salah satu tradisi unik yang dimiliki masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat bernama tradisi Marosok.

Tradisi marosok ini biasa digelar di pasar ternak di sejumlah kawasan di Sumatera Barat. Berbeda umumnya dengan transaksi jual beli, dalam tradisi Marosok dilakukan dalam diam.

Kata marosok bisa diartikan memegang atau meraba. Penggunaan kata ini sangat pas dengan tata cara penentuan harga jual beli. Di saat transaksi dilakukan, baik penjual maupun pembeli hanya melakukan gerakan salaman yang ditutupi oleh selembar kain penutup atau handuk kecil tanpa berbicara sama sekali.

Uniknya ‘permainan tangan’ ini juga tertutup bagi orang lain. Tujuan dari sikap ini adalah agar orang lain tak mengetahui proses transaksi tersebut, sehingga harga ternak yang diperdagangkan, hanya diketahui oleh si penjual dan pembeli.

Baca Juga:  Si Bento, Penyu Tua Penghuni Danau Moko di Tongkuno Muna

Saat tawar menawar berlangsung, penjual dan pembeli saling menggenggam, memegang jari. Sesekali mereka menggoyang tangannya ke kiri dan ke kanan. Jika transaksi berhasil, setiap tangan saling melepaskan. Sebaliknya, jika harga belum cocok, tangan tetap menggenggam erat tangan yang lain seraya menawarkan harga baru yang bisa disepakati.

Penjual akan menggunakan jarinya untuk menyebutkan nominal harga dan pembeli juga akan menawar harga dengan menggunakan jarinya. Setiap jari yang mereka mainkan, melambangkan angka puluhan ribu, ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Jika di antara mereka sudah menyepakati harga, maka genggaman tangan akan dilepaskan. Kerahasiaan harga ini kemudian menggambarkan tingginya nilai untuk saling menghargai. Terutama untuk sesama penjual. Selain itu, cara ini juga dianggap ampuh untuk meminimalisasi kemungkinan adanya persaingan harga.

Baca Juga:  Paras Cantik Goa Koo, Satu Dari Seribu Goa di Buteng Sultra

Jika kemudian transaksi tidak menemukan kesepakatan, maka pembeli boleh membatalkan rencana pembelian sapi yang sudah dipilih dan memilih atau mematok kembali hewan ternak kepada penjual lainnya.

Namun, jika di antaranya mendapatkan kesepakatan harga, maka penjual akan pergi ke kantor dinas pasar untuk mengurus karcis atau surat-surat dengan membayar biaya sebesar Lima ribu. Surat-surat itu, merupakan surat tanda bukti yang menunjukkan telah terjadinya transaksi jual beli ternak. Sehingga pembeli hewan ternak terhindar dari tuduhan pencurian hewan ternak atau hewan ternak tersebut merupakan hewan ilegal. Setelah tahapan ini selesai, maka transaksi jual beli selesai dan, pembeli dapat membawa sapi itu pulang.

Transaksi dalam sunyi jamak ditemui di pasar-pasar ternak di Sumatera Barat, dan tentu saja masing-masing daerah memiliki cara yang disepakati bersama. Tak ada yang mengetahui secara pasti, kapan tradisi ini mulai dilakukan. Sejumlah pedagang ternak hanya mengakui, tradisi ini sudah dimulai sejak zaman raja-raja di Minangkabau dan diterima secara turun temurun. (rnd)

Kunjungi Juga

Forkopimda Kota Probolinggo Gelar Rakor Penerapan Kelurahan Tangguh

eportal.id, Probolinggo – Bertempat di Kantor Pemerintah Kota Probolinggo, Dandim 0820 Probolinggo Letkol Inf Imam …

Arab Saudi Izinkan Shalat Berjamaah di Masjid, Jalankan Protokol Kesehatan. (ilustrasi istimewa)

Arab Saudi Izinkan Masjid Dibuka Kembali dengan Protokol Kesehatan

eportal.id, Arab Saudi – Pemerintah Kerajaan Arab Saudi izinkan masjid dibuka kembali untuk kegiatan Shalat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *