Tradisi Pemakaman Unik Rambu Solo di Tana Toraja
Tradisi Pemakaman Unik Rambu Solo di Tana Toraja. (Foto: Adira)

Tradisi Pemakaman Unik Rambu Solo di Tana Toraja

eportal.id, Tana Toraja – Tana Toraja, Kabupaten yang terletak di Sulawesi Selatan ini menjadi salah satu bukti akan kayanya budaya yang terdapat di Indonesia. Keelokan alam dan kentalnya budaya yang dimiliki membuat nama Tana Toraja dikenal hingga ke internasional.

Masyarakat suku Toraja masih memegang teguh keyakinan serta adat yang mereka punya, hal ini yang membuat Tana Toraja menjadi salah satu situs warisan budaya dunia yang terdaftar di UNESCO. Salah satu hal yang menjadi daya tarik Tana Toraja adalah upacara pemakaman atau ritual penguburan, yang dapat dikatan menyeramkan dan terbilang rumit untuk dilakukan.

Upacara adat serta ritual yang digelar oleh masyarakat Tana Toraja sebagai bentuk pelestarian tradisi dan penghormatan kepada nenek moyangnya, beberapa upacara adat hingga tempat pemakaman yang unik tersebut diantaranya Tradisi Ma’nene, Upacara Rambu Solo, Londa, Bori Parinding dan Pohon Tarra.

Baca Juga:  Menuju Balinya Kabupaten Malang Lewat Gamelan

Penasaran seperti apa upacara adat dan tempat pemakaman tersebut ? Berikut ulasannya.

Tana Toraja mempunyai upacara adat yang biasa dilakukan, yakni Rambu Solo. Upacara Rambu Solo merupakan sebuah upacara pemakaman. Pada Upacara Rambu Solo, penduduk Toraja percaya tanpa adanya upacara ritual ini maka arwah orang yang telah meninggal akan memberikan kesialan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Upacara pemakaman Rambu Solo adalah serangkaian kegiatan yang rumit terkait ikatan adat dan tradisi setempat serta memerlukan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun hingga berbulan-bulan. Selagi menunggu kesiapan upacara, jasad tersebut dibungkus menggunakan kain yang kemudian disimpan di dalam rumah leluhur atau tongkonan.

Puncak Kegiatan Upacara Pemakaman Rambu Solo
Biasanya puncak pemakaman Rambu Solo berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Di saat itulah orang Toraja yang sedang merantau di seluruh Indonesia akan pulang kampung untuk mengikuti serangkaian kegiatan ini. Selain itu, kunjungan sejumlah wisatawan lokal hingga mancanegara pun bisa ikut menyaksikan tradisi adat Toraja ini.

Baca Juga:  Pesona Miniatur Raja Ampat di Pulau Labengki

Dalam kepercayaan penduduk Tana Toraja (Aluk To Dolo) memiliki prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka akan semakin cepat pula rohnya menuju ke Nirwana. Apabila dari kalangan bangsawan yang meninggal maka diharuskan memotong kerbau berjumlah 24-100 ekor sebagai Ma’tinggoro atau kurban. Bahkan ada yang memotong kerbau belang yang terkenal memiliki harga yang sangat mahal, Sahabat!

Upacara pemotongan ini adalah salah satu tradisi khas Tana Toraja dengan menebas leher kerbau dalam sekali ayunan menggunakan sebilah parang. Kerbau pun nantinya akan terkapar tak bernyawa setelah beberapa waktu.

Penduduk Tana Toraja hidup dalam komunitas kecil, di mana mereka yang sudah menikah akan meninggalkan orang tuanya dan membangun kehidupan di tempat lain. Anak tersebut tetap mengikuti garis keturunan orang tua dan mendiami satu rumah adat yang disebut sebagai Tongkonan. Tongkonan ini nantinya dibagi berdasarkan tingkatan strata sosial yang berbeda sesuai peran dalam masyarakat. (rnd)

Kunjungi Juga

Bendera Merah Putih Robek dan Lusuh, Danramil Amuk Kepala Desa. (ilustrasi istimewa)

Heboh, Empat Ibu Gunting Bendera Merah Putih di Sumedang

eportal.id, Sumedang – Video aksi empat ibu di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, merusak bendera Merah …

Ultah ke 42 FKPPI Probolinggo Bagikan Sembako Ke Kaum Dhuafa Dan Abang Becak

Probolinggo – Di Ultahnya ke 42 tahun, Forum Komunikasi Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI) Probolinggo, bagikan 300 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *