Tumpukan Bebatuan di Ngantang Malang, Diduga Bagian Struktur Candi

Malang – Bebatuan menumpuk yang berlokasi di di Dusun Sumbermulyo, Desa Sumberagung, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, menimbulkan tanda tanya besar.

Kendati masih menimbulkan tanda tanya, setidaknya ada penjelasan yang mungkin bisa membuka sedikit jawaban. Bebatuan itu sendiri bisa dibedakan bentuknya yang berbeda-beda, tapi mengarah satu titik, yaitu kemungkinan terkorelasi dengan candi.

Hendrik, budayawan, menjelaskan menurut kacamata logika, terkait eksistensi bebatuan yang menumpuk di desa tersebut. Menurutnya, balok-balok batu itu kemungkinan besar bagian dari suatu candi.

Menilik balok-balok batu yang tidak rapi dan ukuran lebar, panjang atau tebal yang tidak sama, kemungkinan batu itu dipahat oleh orang non profesional, dalam artian bukan dikerjakan berdasarkan “order” Pemerintah atau Kerajaan setempat.

Baca Juga:  Penumpang Bus Primajasa Tewas, Dievakuasi ke RSUD Ciereng Subang

Beda dibanding balok-balok batu produk Pemerintah, yang berukuran sama dengan yang lain, maupun kerataan permukaan batu. Kerapatan akan terjaga dibanding kerapatan balok batu yang bervariasi ukuran, dan kerataan yang kurang.

Tak cuma itu, Hendri berpendapat, bila dicermati relief sosok yang diketahui identitasnya, pengerjaannya kurang profesional, dan besar kemungkinan dipahat oleh pemahat lokal, bukan pemahat yang “berbackground” Pemerintah pada masa itu.

Hendrik meyakini, batu-batu tersebut terhubung dengan suatu bangunan, atau lazim disebut candi. Hal itu mengacu instingnya yang teruji di berbagai tempat, khususnya di tempat-tempat yang diidentifikasi sebagai peninggalan peradaban masa lalu.

Terkait fungsinya, candi kemungkinan berlatarbelakang tempat perabuan, bukan pemujaan. Hendri menambahkan, ukuran candi, mungkin tidak terlalu besar, alias terlalu lebar dan tidak terlalu tinggi.

Baca Juga:  Tak Terima Ditegur, Tiga Siswa Pukul dan Injak Kepala Guru di Kupang

Hendrik berpendapat, kemungkinan candi itu bercorak Hindu, tapi ia tidak dapat memastikan, lantaran bentuk utuhnya belum diketahui hingga saat ini.

Selain itu, Hendri menduga, candi ini dibuat untuk pejabat lokal, bukan kerabat istana atau orang yang dekat dengan Raja. Pejabat itu memiliki kekuasaan di wilayah sekitar Ngantang, tapi sebatas pejabat bawahan.

Ia berharap, eksplorasi dilakukan orang-orang yang peduli terhadap budaya atau peninggalan leluhur. Eksplorasi itu tidak boleh dilakukan asal-asalan, dan tetap berpegang pada bukti otentik, tanpa meraba yang tidak diketahui.

Karman, anak dari Sartak, sesepuh di desa tersebut, menyampaikan keterangan yang terkait batu-batu itu. Menurutnya, batu-batu itu sudah ada sejak dulu, bahkan sejak kecil, ia sudah mengetahui keberadaan bebatuan ini.

Baca Juga:  Operasi Yustisi Protokol Kesehatan Terus digalakkan

Senada hal itu, Joko, warga setempat, meyakini batu-batu itu ada hubungannya dengan cerita turun temurun yang ia ketahui. Meski cerita tidak bisa mengalir secara jelas, ia memastikan batu-batu itu dulunya utuh, tapi kondisinya tidak sempurna, lantaran ada ulah tak terpuji dari oknum di masa lalu.

Apabila benar tumpukan batu itu bagian struktur bangunan candi, dipastikan akan berdampak positif bagi warga setempat. Namun, pembuktian harus tertuju benda-benda yang merujuk pada bangunan candi, bukan sekedar tumpukan batu. (dodik)

Kunjungi Juga

Ratusan Pemulung dan Tuna Wisma Divaksin Di TPA Oleh Anggota Satlantas Polres Probolinggo Kota

Probolinggo – Ratusan pemulung, tuna wisma dan warga sekitar TPA (Tempat Pembuangan Akhir), dilakukan vaksin …

Antisipasi Tindak Pidana Korupsi Pemkot Probolinggo Bersama KPK Gelar Rapat Koordinasi Monitoring Dan Evaluasi

Probolinggo – Antisipasi melanggar tindak pidana korupsi dan grativiikasi Pemerintah Kota Probolinggo bersama Komisi Pemberantasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *