Cobek Batu Banjaranyar Bertahan di Tengah Serbuan Peralatan Dapur Modern

Cobek Batu Banjaranyar Bertahan di Tengah Serbuan Peralatan Dapur Modern
Banyumas – Di tengah maraknya peralatan dapur modern, seorang perajin cobek batu di Desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah masih setia mempertahankan kerajinan tradisionalnya sejak tahun 1970. Adalah Daslam (67), perajin cobek batu yang hingga kini tetap semangat menekuni pekerjaan turun-temurun bersama anaknya.

Setiap hari, Daslam mampu menghasilkan hingga 30 buah cobek batu dengan ukuran beragam, mulai dari 15 sentimeter hingga ukuran terbesar mencapai 50 sentimeter. Harga jual cobek pun relatif terjangkau, berkisar Rp10 ribu hingga Rp45 ribu per buah. Dari hasil penjualan tersebut, omzet yang didapat Daslam bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per hari.

“Cobek batu ini lebih kuat, tahan banting, dan dijamin awet. Cobek dari semen cepat rusak, tidak sebanding dengan yang dibuat dari batu gunung asli,” ujar Daslam.

Keunggulan inilah yang membuat cobek buatan Daslam tetap diminati. Tidak hanya warga sekitar, tetapi juga rumah tangga dan restoran di berbagai daerah, termasuk hingga ke Paguyangan dan Salem, Kabupaten Brebes.

Kepala Desa Banjaranyar, Robi Wibowo, mengakui usaha cobek milik Daslam sudah menjadi penghidupan keluarga secara turun-temurun. “Kualitasnya terjamin karena dibuat dari batu gunung, hasilnya pun mampu menopang ekonomi hingga membiayai pendidikan anak-anaknya,” jelasnya.

Pemerintah desa bahkan berencana memberikan stimulus permodalan melalui BUMDes maupun koperasi, mengingat bahan baku batu yang digunakan Daslam juga membutuhkan biaya.

Lebih dari sekadar alat dapur, bagi Daslam cobek batu adalah sumber ekonomi keluarga sekaligus warisan keterampilan tradisional yang kini semakin jarang ditemui.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *