Air Mata Haru di Rumah Baru: Sulistiono dan Harapan yang Terwujud

Air Mata Haru di Rumah Baru: Sulistiono dan Harapan yang Terwujud

Banyumas – Sulistiono menatap rumahnya yang kini tegak kokoh, mata berkaca-kaca menahan luapan haru. Dinding yang dulu rapuh, atap yang remuk dimakan hujan, dan lantai tanah yang selalu lembap, kini hanyalah kenangan pahit yang tersapu waktu.

Bagi warga Grumbul Gang Ampel, Desa Pandansari, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, rumah ini lebih dari sekadar tumpukan bata dan kayu—ia adalah lambang harapan baru, penopang mimpi, dan tempat hati keluarganya kembali merasa aman.

Selama bertahun-tahun, Sulistiono dan keluarganya hidup di rumah yang jauh dari kata layak. Setiap hujan turun, rasa cemas menghantui. Bocornya atap dan tanah lembap di lantai rumah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan dan keselamatan keluarganya. Namun hari itu, rasa cemas berganti haru. Melalui program bedah rumah, tempat tinggalnya kini menjadi lebih aman, sehat, dan manusiawi.

Bacaan Lainnya

“Rumah kami dulu tidak layak. Sekarang sudah layak. Semoga ini menjadi penyemangat hidup keluarga kami agar ke depan lebih baik,” ucap Sulistiono

Perubahan ini terwujud berkat gotong royong banyak pihak. Lazismu Ranting Banjarsari, Gerakan Rakyat Ajibarang (Gerang), bersama jamaah Aswaja, SBBA Ajibarang, serta para donatur lain dari berbagai kalangan bahu-membahu mewujudkan rumah impian sederhana tersebut.

Yaakob, perwakilan Lazismu Ranting Banjarsari, menjelaskan bahwa bedah rumah ini bukan sekadar membangun fisik bangunan, tetapi juga membangun martabat dan rasa aman keluarga penerima manfaat.

“Kami ingin mereka bisa tinggal dengan tenang. Ketika rumahnya tertata, pikirannya pun lebih ringan untuk menata masa depan,” tutur Yaakob.

Program ini menyasar warga berpenghasilan sangat rendah dengan kondisi rumah rusak berat dan membahayakan keselamatan. Bagi Lazismu dan para relawan, menyelamatkan satu rumah berarti menjaga satu keluarga dari risiko dan ketidakpastian.

Kini, rumah baru itu bukan hanya tempat berteduh dari hujan, tetapi juga simbol harapan dan kesempatan bagi keluarga Sulistiono untuk memulai lembaran baru – dengan rasa aman, nyaman, dan penuh optimisme.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *