Banjir Bandang Bumiayu Rusak Ratusan Hektare Sawah, Petani Terancam Rugi

Banjir Bandang Bumiayu Rusak Ratusan Hektare Sawah, Petani Terancam Rugi

Brebes – Banjir bandang yang melanda Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tak hanya merendam permukiman warga. Terjangan banjir dari Sungai Keruh juga menghancurkan ratusan hektare lahan pertanian di Desa Adisana.

Akibatnya, para petani terancam merugi karena tanaman padi yang baru ditanam hingga yang siap panen rusak diterjang banjir.

Banjir bandang kembali melanda wilayah Kecamatan Bumiayu pada Jumat malam. Luapan Sungai Keruh yang dipicu hujan deras sejak pagi hingga malam hari merendam permukiman warga sekaligus area persawahan di Desa Adisana.

Tanaman padi milik warga yang baru berusia sekitar tiga minggu terendam air bercampur lumpur. Kondisi tersebut membuat petani tidak ddapa menyelamatkan tanamannya meski modal tanam sudah dikeluarkan cukup besar.

“Ini sebenarnya baru ditanam. Modal sudah banyak, tapi malah kena banjir lagi. Ya jelas rugi,” ujar Winda, salah seorang petani terdampak. Tak hanya gagal tanam, sebagian sawah yang seharusnya sudah memasuki masa panen juga ikut terendam banjir. Akibatnya, hasil panen petani dipastikan gagal total.

Kepala Desa Adisana, Ahmad Yani, mengatakan banjir kali ini merupakan kejadian kedua sepanjang tahun ini dan menjadi yang terparah. Luapan Sungai Keruh masuk hingga ke wilayah desa dan berdampak luas pada permukiman warga serta sektor pertanian.

“Ini banjir yang kedua tahun ini dan yang paling parah. Dampaknya ke pemukiman dan pertanian. Untuk lahan pertanian kurang lebih sekitar seratus hektare. Ada yang gagal tanam dan ada juga yang gagal panen,” jelas Ahmad Yani.

Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun instansi terkait, segera mengambil langkah nyata, terutama dengan melakukan penanganan di wilayah hulu sungai.

“Harapan kami semua stakeholder segera memperhatikan dan langsung action, terutama di hulu. Kalau hulunya tidak ditangani, sampai kapan pun banjir akan terus terjadi,” tegasnya.

Pemerintah Desa Adisana menilai penanganan di hilir tidak akan efektif jika persoalan di hulu Sungai Keruh tidak segera diselesaikan. Pasalnya, tanggul sungai dilaporkan sudah jebol, sementara musim hujan diperkirakan masih akan berlangsung cukup panjang.

Hingga kini, warga dan petani terdampak masih menunggu langkah konkret dari pemerintah untuk mencegah banjir susulan yang dikhawatirkan kembali merusak lahan pertanian dan permukiman warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *