Bengkel Panci Tradisional di Banyumas Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Peralatan Masak Modern
Banyumas – Di tengah maraknya penggunaan peralatan masak modern dan jasa servis berbasis teknologi, bengkel panci tradisional masih bertahan dan tetap diminati masyarakat. Salah satunya adalah bengkel panci rumahan milik Muntohid, warga Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang telah puluhan tahun menekuni jasa servis panci tradisional.
Bengkel sederhana tersebut berada di sebuah gubug kecil di belakang rumahnya. Di tempat itulah Muntohid, pria paruh baya, setiap hari tampak sibuk memperbaiki panci-panci milik warga yang rusak dan tak lagi bisa digunakan. Dengan keterampilan yang dimilikinya sejak muda, panci-panci berlubang maupun rusak parah dapat kembali berfungsi setelah ditangani oleh tangannya.
Muntohid menuturkan, usaha bengkel panci yang digelutinya berawal dari berkeliling kampung ke kampung untuk menawarkan jasa perbaikan. Seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya pelanggan, kini warga justru datang langsung ke rumahnya untuk memperbaiki perabot dapur mereka.
“Dulu awalnya keliling, terus lama-lama banyak pelanggan datang ke rumah. Jadi sekarang saya nunggu di rumah saja,” ujar Muntohid. Ia menjelaskan, untuk kerusakan ringan seperti panci berlubang kecil, cukup diperbaiki dengan paku rivet. “Kalau panci besar, tiga saja sudah jelas 120 ribu dikali tiga, sekitar 360 ribu sehari,” tambahnya.
Para pelanggan bengkel panci ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pedagang bakso, penjual mi ayam, penjual ayam potong, hingga ibu rumah tangga dari desa-desa sekitar. Mereka membawa berbagai jenis panci dengan kondisi kerusakan yang beragam, mulai dari lubang kecil hingga bodi panci yang sudah rusak parah, termasuk panci berukuran besar jenis bandengan.
Untuk panci dengan kerusakan ringan, biaya servis tergolong terjangkau karena hanya menggunakan paku rivet. Sementara itu, untuk panci berukuran besar, tarif disesuaikan dengan diameter panci. Panci berdiameter 40 sentimeter dikenakan biaya sekitar Rp70 ribu, ukuran 45 sentimeter Rp100 ribu, dan ukuran 50 sentimeter mencapai Rp120 ribu.
Proses perbaikan satu panci besar memerlukan waktu sekitar tiga jam. Dalam sehari, Muntohid mampu menyelesaikan perbaikan tiga hingga empat panci, tergantung tingkat kerusakan serta ukuran panci yang ditangani.
Meski hanya bermodal bengkel sederhana dan peralatan tradisional, usaha servis panci milik Muntohid tetap menjadi solusi ekonomis bagi masyarakat. Keberadaan bengkel ini sekaligus menjadi bukti bahwa keterampilan tradisional masih mampu bertahan dan relevan di tengah perubahan zaman serta perkembangan teknologi yang semakin pesat.











