Program yang berlangsung mulai Agustus hingga Desember 2025 ini menggandeng Kelompok Tani Gabungan (Gapoktan) Bhakti Manunggal sebagai mitra utama, dengan melibatkan dosen, mahasiswa, Pemerintah Desa Dringu, Karang Taruna, serta tim relawan Tagana.
Ketua Pelaksana Program, Dr. Nuriyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil hilirisasi riset multidisiplin antara tim Universitas Yudharta Pasuruan dan pendamping dari Universitas Brawijaya.
“Target kami bukan hanya memasang alat, tapi juga menciptakan kader teknologi di desa sehingga inovasi ini dapat berlanjut dan direplikasi,” ujar Dr. Nuriyanto. Jumat (7/11/2025).
Melalui program ini, tim pelaksana mengembangkan sistem monitoring kelembapan tanah, irigasi otomatis, dan peringatan dini banjir berbasis notifikasi digital. Selain itu, dilakukan pula pelatihan mitigasi bencana, literasi teknologi, serta pembuatan pupuk organik bagi kelompok tani.
Desa Dringu dipilih karena merupakan sentra produksi bawang merah sekaligus wilayah rawan banjir akibat aliran Sungai Kedunggaleng. Dengan adanya teknologi pemantauan lahan berbasis IoT, diharapkan petani dapat mengoptimalkan produksi dan mengurangi risiko gagal panen akibat genangan air.
Ketua Gapoktan Bhakti Manunggal, Bakir, menyambut baik pelaksanaan program ini.
“Selama ini kami sering mengalami kerugian saat kondisi tanah lembab dan hama menyerang. Dengan teknologi pemantauan lahan, kami bisa lebih siap mengatur pola penyiraman otomatis dan pemberian pupuk dengan lebih baik,” tuturnya.
Sementara itu, Prof. Asmaul Muntaniroh, dari Universitas Brawijaya sebagai tim pendamping menambahkan bahwa pihaknya juga membantu dalam pengolahan data pertanian berbasis digital agar petani dapat mengambil keputusan tanam secara lebih efisien dan tepat waktu.
Program ini sejalan dengan RPJMDes Dringu dan RPJMD Kabupaten Probolinggo, serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Desa, khususnya pada bidang Ketahanan Pangan dan Penanganan Perubahan Iklim.
Dengan kolaborasi lintas universitas dan pemberdayaan masyarakat ini, Desa Dringu diharapkan menjadi percontohan penerapan teknologi cerdas di sektor pertanian berbasis mitigasi bencana di Jawa Timur.













