Banyumas – Pemerintah Desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, terus berinovasi dalam program ketahanan pangan. Tahun ini, desa tersebut mengalokasikan sekitar Rp230 juta dari Dana Desa (DD) untuk membangun bioflok pembibitan ikan nila bersertifikat.
Kepala Desa Banjaranyar, Robi Wibowo, menjelaskan bahwa program ketahanan pangan merupakan bagian dari kebijakan pemerintah yang mewajibkan setiap desa mengalokasikan 20 persen dari Dana Desa untuk sektor ketahanan pangan. “Untuk Desa Banjaranyar, jumlahnya sekitar 230 jutaan. Dana itu kami gunakan untuk bioflok pembibitan ikan nila, dan semua benihnya bersertifikat,” ujar Robi.
Menurutnya, satu unit bioflok mampu menampung sekitar 2.000 ekor ikan nila. Jenis nila yang digunakan merupakan hasil pembibitan bersertifikat dari kawasan Baturaden. “Kami ambil benih dari Baturaden karena sudah bersertifikat. Jadi jelas kualitasnya, bukan nila sembarangan. Jenis ini cepat tumbuh dan lebih menguntungkan dibanding ikan lain,” tambahnya.
Dalam satu siklus pembesaran, ikan nila dipelihara mulai dari ukuran 1 sentimeter hingga 4–5 sentimeter sebelum dijual sebagai benih konsumsi. Setiap siklus berlangsung maksimal tiga bulan sehingga petani bisa melakukan panen berkala.
Robi menuturkan, pemilihan ikan nila didasari hasil survei yang dilakukan pihaknya terhadap berbagai jenis ikan air tawar. “Kami sudah membandingkan dengan lele dan ikan lainnya. Ternyata hanya nila yang memberikan selisih keuntungan lebih besar dan tingkat keberhasilan tinggi,” ujarnya.
Rencananya, program bioflok pembibitan nila ini mulai beroperasi pada awal November 2025. Melalui program ini, Pemerintah Desa Banjaranyar berharap dapat meningkatkan kemandirian pangan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru di bidang perikanan.
Desa Banjaranyar Kembangkan Budidaya Ikan Nila Bersertifikat untuk Ketahanan Pangan
Desa Banjaranyar Kembangkan Budidaya Ikan Nila Bersertifikat untuk Ketahanan Pangan












