Harga Singkong Anjlok, Tepung Mocaf Jadi Harapan Baru Petani Karangreja
Cilacap – Terpuruknya harga singkong di Desa Karangreja, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, membuat para petani semakin kesulitan memperoleh keuntungan. Namun di tengah anjloknya harga komoditas tersebut, muncul terobosan baru berupa produksi tepung mocaf atau mocatela – modifikasi olahan singkong yang kini menjadi peluang ekonomi baru bagi petani dan masyarakat setempat.
Harga singkong di wilayah Karangreja saat ini hanya berkisar Rp500 per kilogram, jauh lebih rendah dibandingkan harga sebelumnya yang dapat mencapai Rp1.200 per kilogram. Kondisi ini membuat petani sulit menutup biaya produksi, bahkan hasil panen kerap tidak cukup untuk membayar sewa lahan.
Salah satu petani, Tisem, mengaku setiap panen masih harus mengeluarkan biaya sewa lahan sekitar Rp200 ribu per tahun. Dengan harga singkong yang merosot, ia mengaku hasil panen tidak lagi memberikan keuntungan.
“Sewa tanahnya itu per panen dua ratus ribu. Tapi kalau ditanami singkong ya nggak nguntungin, soalnya singkong murah. Sekarang cuma lima ratus per kilo. Dulu bisa seribu dua ratus. Turunnya dari tahun ini,” ungkap Tisem.
Melihat kondisi tersebut, seorang warga Karangreja, Sutarmo, berinisiatif memproduksi tepung mocag atau mocafetela sejak tahun 2019. Langkah itu diambil setelah melihat luasnya lahan singkong di desanya, namun para petani tidak pernah menikmati nilai tambah dari hasil panen.
“Tahun 2019 kami lihat kebun singkong luas sekali, tapi petaninya tidak ada keuntungan. Lalu kami berinisiatif bantu ekonomi petani lewat mocaf. Sekarang sudah ada 18 varian produk seperti beras analog, kerupuk mocaf, krispi, dan bronis mocaf” kata Sutarmo, penggagas usaha tersebut.
Usaha pengolahan tepung mocaf tidak hanya memberdayakan petani, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu rumah tangga di desa itu. Puluhan perempuan kini terlibat aktif dalam tahapan produksi, mulai dari pengupasan umbi, pencucian, perajangan, fermentasi, pengeringan, penggilingan hingga pengemasan.
Fatimah, salah satu pekerja pengolahan mocafetela, merasakan langsung manfaat ekonomi dari usaha berbasis singkong tersebut.
“Sangat membantu ekonomi keluarga. Dulu saya cuma berdagang di pasar. Sekarang pemasaran produk mocaf meningkat dan membantu banyak masyarakat sini,” katanya.
Untuk memastikan keberlanjutan usaha ini, BAZNAS Cilacap turut memberikan dukungan berupa penguatan kelembagaan, pembinaan usaha, hingga menyediakan lahan seluas 50 hektare guna menjaga ketersediaan bahan baku terutama saat permintaan meningkat, termasuk peluang ekspor.
“Mocaf ini potensinya luar biasa. Kami mendukung dari sisi sarana, pemasaran, hingga kesiapan bahan baku. Ke depan kami yakin tepung mokaf bisa menjadi produk unggulan yang diminati pasar,” ujar Wakil Ketua II BAZNAS Cilacap, Akhmad Kholil.
Dengan produksi yang terus berkembang serta permintaan pasar yang kian meningkat, Sutarmo berharap industri berbasis singkong ini mampu menjadi solusi jangka panjang bagi kesejahteraan petani Karangreja sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Cilacap.












