Kang Mas Wanto Tirta, Presiden Geguritan yang Tak Pernah Lelah Menyemai Semangat dari Banyumas

Kang Mas Wanto Tirta, Presiden Geguritan yang Tak Pernah Lelah Menyemai Semangat dari Banyumas

Banyumas – Siang menjelang sore di Pendopo Asri, Jalan Raya Jatilawang–Margasana, Margasana Kidul, Karanganyar, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, suasana tiba-tiba terasa hangat dan penuh keakraban. Dua sosok datang berboncengan di atas sepeda motor – Kang Mas Wanto Tirta bersama sang istri tercinta, Mbakyu Yuli. Keduanya tampak serasi, mirip pasangan pengantin anyar yang membawa kabar bahagia.
Kedatangan mereka bukan tanpa alasan. Pasangan ini disambut langsung oleh tuan rumah, Asringin Marthawirya, pemilik Pendopo Asri. Dalam pertemuan sederhana itu, Kang Mas Wanto datang membawa bebungah – hadiah penuh makna berupa buku baru berjudul “Cinta Restu Langit”, kumpulan puisi dan geguritan karyanya yang baru saja terbit. Buku itu masih rapi dalam balutan plastik, menjadi simbol semangat berkarya yang tak lekang oleh usia.
“Alhamdulillah, seneng ora lumrah Inyonge,” ungkap Asringin dengan wajah berbinar menerima pemberian tersebut.
Meski telah memasuki masa purna tugas, semangat hidup Kang Mas Wanto Tirta tetap menyala luar biasa. Sosok budayawan asal Banyumas ini dikenal luas karena keceriaan, ketulusan, dan energinya yang tak pernah habis. “Aku sok isin, sing esih nom malah kendor, sementara Kang Wanto terus semangat uripe pollll luar biasa,” ujar Asringin dengan nada kagum.
Kang Mas Wanto adalah pribadi yang mampu menebar tawa di tengah keruwetan hidup. “Nek ketemu, sing ruwet runyam mbundasi endas bisa ilang, bisa gemuyu akhire cekakakan,” lanjutnya. Ia menjadi sosok yang mengajarkan bahwa hidup hanya sekali, dan selayaknya dijalani dengan senyum serta kelapangan hati.

Dalam setiap penampilannya, Kang Mas Wanto selalu membuka dengan pekikan khas, “Merdeka!” — seruan lantang yang seolah mengguncang seluruh aula, membangkitkan semangat siapa pun yang mendengar. Dengan spontan, ia bisa melontarkan lelucon, parikan, geguritan, hingga puisi yang mengalir tanpa batas seperti mata air yang tak pernah kering. Itulah mengapa ia kerap diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba seni budaya, dan tampil di berbagai daerah – tak hanya di Banyumas, tetapi juga hingga Yogyakarta, Jakarta, dan wilayah lain di Jawa Tengah.
Bukan tanpa alasan, banyak sahabat dan pelaku seni kemudian menjulukinya “Presiden Geguritan” – sebuah gelar aklamasi yang lahir dari penghormatan tulus, bukan hasil pemilihan atau lomba. Ia dinilai mampu menjaga semangat seni dan budaya di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan akar lokalitas dan kepribadian Banyumasan yang hangat dan humoris.
Bagi Asringin Marthawirya, Kang Mas Wanto adalah sosok teladan hidup. “Kang Wanto iku uripé apa anané, tulus, ora ngeluh, terus semangat. Aku dewek durung bisa niru, esih sok ngersulah,” ujarnya lirih namun penuh rasa hormat.
Pertemuan sore itu pun berakhir dengan doa dan rasa syukur. “Matursuwun, Kang Mas Wanto. Mugi panjang yuswo, yuswo ingkang barokah,” tutup Asringin – sebuah ungkapan sederhana yang lahir dari hati, untuk seorang sahabat dan panutan sejati dari tlatah Banyumas: Kang Mas Wanto Tirta, Presiden Geguritan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *