Banyumas – Selama lebih dari tiga dekade, Supriyatin (67), warga Dusun Danasri, Desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, konsisten menekuni usaha keripik dage. Sejak dirintis pada tahun 1990, camilan gurih khas desa itu tetap diproduksi dengan cita rasa sederhana yang khas, sehingga mampu bertahan hingga kini dan dikenal sampai ke luar daerah.
Selain keripik dage, Supriyatin juga memproduksi keripik tempe, rebon, kacang hijau, kacang tanah, serta kedelai. Harganya cukup terjangkau, rata-rata Rp6.000 per bungkus dengan isi bervariasi. Dengan bahan sederhana seperti bawang putih, garam, ketumbar, telur, tepung beras, dan aci, olahan keripiknya digemari banyak kalangan.
Sejumlah pembeli kerap menjadikan keripik produksi Banjaranyar ini sebagai oleh-oleh ke luar kota. Rasa yang renyah, gurih, dan bumbu bawang yang kuat menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
“Semoga ke depannya bisa lebih maju lagi. Harapannya nambah modal, produksi meningkat, dan pemasaran makin luas,” ungkap Supriyatin.
Usaha rumahan ini menjadi bukti ketekunan pelaku UMKM desa dalam menjaga tradisi kuliner lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru di pedesaan.
Keripik dage buatan Supriyatin ternyata tidak hanya digemari warga sekitar, tetapi juga diminati konsumen dari luar daerah. Salah satunya Ibu Santi, pembeli asal Pekuncen, yang sengaja membeli 15 bungkus keripik untuk dibawa sebagai oleh-oleh ke Kelongan.
Menurutnya, rasa keripik dage produksi Desa Banjaranyar ini khas dan berbeda. “Rasanya asin, renyah, gurih, dan bumbu bawangnya terasa sekali. Di sana juga pada suka,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ibu Nuriah, yang menilai harga keripik dage buatan Supriyatin sangat terjangkau. Dengan harga Rp6.000 per bungkus, produk ini cocok dijadikan buah tangan bagi kerabat maupun teman di luar kota.
Kedua pembeli itu berharap usaha keripik dage Banjaranyar terus berkembang, karena selain mempertahankan cita rasa lokal, juga memberi pilihan oleh-oleh khas Banyumas yang murah meriah namun tetap berkualitas.
Kepala Desa Banjaranyar, Robi Wibowo, menilai keberadaan UMKM seperti usaha keripik dage milik Supriyatin menjadi bukti ketekunan warga dalam menjaga tradisi kuliner lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru di pedesaan.
Menurutnya, pemerintah desa berkomitmen mendorong kerja sama antara pelaku UMKM dengan BUMDes maupun lembaga terkait untuk mendukung permodalan serta memperluas jaringan pemasaran.
“UMKM seperti ini harus terus kita dorong. Selain menjaga cita rasa khas desa, juga mampu memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Usaha keripik dage yang telah berjalan lebih dari tiga dekade itu, lanjut Robi, menjadi contoh nyata bagaimana usaha kecil bisa bertahan berkat konsistensi rasa, kualitas, dan loyalitas konsumen.











