Ketekunan Menggores Keindahan: Perjalanan Kaligrafer Muhammad Gufron Najib Wijaya

Ketekunan Menggores Keindahan: Perjalanan Kaligrafer Muhammad Gufron Najib Wijaya

Banyumas – Muhammad Gufron Najib Wijaya, warga Desa Lesmana Rt 02 Twitter 04, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, dikenal sebagai seniman kaligrafi yang konsisten menekuni dunia seni tulis indah sejak tahun 2001. Kecintaannya pada kaligrafi bermula secara tidak sengaja, ketika ia mengikuti pelatihan handwriting of technique (HOT). Dari situ, Gufron bertemu dengan sejumlah guru besar dan maestro kaligrafi di Malang—daerah asalnya—yang kemudian membimbingnya hingga akhirnya ia menemukan gaya khasnya sendiri, yaitu kaligrafi kontemporer.
Menurut Gufron, kaligrafi kontemporer bukan sekadar seni menulis huruf Arab, melainkan perpaduan antara bentuk, warna, dan komposisi yang menghasilkan karya bernilai estetika tinggi. Dalam setiap lukisannya, ia memadukan elemen kaligrafi dengan abstraksi alam dan bentuk-bentuk visual yang dinamis.
Selama lebih dari dua dekade berkarya, Gufron telah menghasilkan sekitar 3.000 hingga 4.000 karya, dengan sekitar 750 karya masih tersimpan hingga kini. Ia tidak pernah membatasi ukuran atau bentuk karyanya—semua tergantung pada media yang tersedia. “Pesan guru saya dulu, kalau sudah menekuni sesuatu harus continue, harus dilakukan setiap hari,” ujarnya. Prinsip itulah yang membuatnya terus berkarya tanpa henti, bahkan dengan media sekecil apapun.
Dari ketekunan itu, Gufron tidak hanya memperoleh kepuasan batin, tetapi juga hasil ekonomi yang nyata. “Dari sini saya bisa menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Kalau dihitung secara matematis memang tidak nyambung, tapi ternyata berkahnya ada,” tuturnya.
Sejak awal perjalanan kariernya, Gufron aktif mengikuti berbagai pameran, baik di tingkat nasional maupun internasional. Melalui kegiatan tersebut, ia banyak bertemu dengan maestro kaligrafi dari berbagai daerah, memperluas wawasan, serta memperkuat keyakinannya bahwa dunia kaligrafi sangat menjanjikan, baik sebagai profesi maupun sebagai bentuk ekspresi diri.
Kini, karya-karyanya tidak hanya dinikmati oleh kolektor dan pencinta seni, tetapi juga masyarakat umum. Banyak orang datang untuk memesan lukisan kaligrafi sesuai kemampuan mereka. “Kadang ada yang datang bilang hanya punya uang sekian. Saya tetap buatkan, sesuai budget, tapi kualitas tetap saya jaga. Karena bagi saya, setiap karya harus punya ruh dan ketelitian yang sama,” ungkapnya.
Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, Muhammad Gufron Najib Wijaya terus menorehkan keindahan lewat goresan kaligrafi—membuktikan bahwa seni bukan hanya tentang keindahan visual, tetapi juga ketulusan, kesabaran, dan keberkahan hidup yang mengalir darinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *