Perayaan akbar ini akan dibuka oleh Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, didampingi Wakil Wali Kota Iona Dwi Lestari. Hadir pula pejabat pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pimpinan perusahaan BUMN, BUMD, dan swasta.
Sebenarnya, Hari Jadi Kota Probolinggo atau Deddineh Kottah Probolinggo jatuh pada 27 Agustus lalu. Namun, karena situasi politik nasional yang kurang kondusif, perayaan terpaksa ditunda satu bulan.
“Demi keamanan dan kenyamanan masyarakat, kami menunggu hingga kondisi stabil,” jelas Wali Kota Amin.
Tahun ini, perayaan mengusung tema “Semangat Baru Mewujudkan Kreativitas, Kearifan Lokal, dan Kemandirian untuk Kota Probolinggo Bersolek.” Seluruh rangkaian acara dipusatkan di Stadion Bayuangga melalui agenda utama Probolinggo Expo. Pameran tersebut menghadirkan produk UMKM, pedagang kaki lima, angkringan, hingga wahana permainan yang siap menghibur pengunjung dari berbagai kalangan.
Tak hanya itu, masyarakat juga akan disuguhi ragam hiburan, mulai dari penampilan band lokal dan pelajar, marching band, tari modern dan tradisional, break dance, hingga pawai budaya dan gowes bersama. Panitia pun menyiapkan lomba Video 360 dengan hadiah jutaan rupiah.
“Peserta bisa individu maupun kelompok. Kami sediakan alat bernama 360 video spintooth. Jadi kameranya yang berputar, peserta tinggal berpose,” terang penyelenggara acara, Elok Hanifah.
Untuk menambah semarak, panggung utama akan menghadirkan bintang tamu seperti grup musik reggae K2 dari Jember serta kolaborasi seniman lokal dalam One Entertainment.
Direktur CV Tropis Media Plan, Elok Valiant, selaku penyelenggara, menegaskan bahwa acara ini ditujukan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Meski tanpa dana APBD, kami berkomitmen menyajikan perayaan yang megah dan memberi dampak positif. Harapannya, perayaan ini juga menarik wisatawan dari luar kota,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh tim pendukung acara berasal dari Probolinggo, mulai dari panggung, tata cahaya, sound system, hingga multimedia.
“Kami ingin menunjukkan potensi pemuda Probolinggo. Acara ini gratis, jangan sampai terlewat,” tambahnya.
Selain perusahaan besar, panitia juga melibatkan UMKM dan pedagang kaki lima. Penataan lokasi dilakukan rapi: peserta expo ditempatkan di pinggir lapangan, sementara tamu VIP menempati area tengah.
Kebersihan stadion pun menjadi perhatian utama. Panitia menurunkan petugas khusus untuk memungut sampah setiap malam. Bahkan, penjual dihimbau tidak menggunakan tusuk bambu atau kayu, melainkan wadah plastik agar lebih aman.
“Begitu acara selesai, stadion langsung bersih,” tutup Elok Hanifah.











