Nano Riantiarto, BBM dan Penerus Seni Peran

Nano Riantiarto, BBM, dan Penerus Seni Peran
Nano Riantiarto, BBM, dan Penerus Seni Peran

Nano Riantiarto dan Penerus Seni Peran

Jakarta – Indonesia di awal tahun 2023 ini kehilangan salah satu maestro dunia seni peran, Nobertus Riantiarno atau akrab dipanggil Nano Riantiarno.

Nano meninggal dunia pada 20 Januari 2023. Meskipun dia telah mendahului kita, tapi karyanya akan abadi dan tak akan lekang oleh waktu.

Nano, memang sudah masuk dalam jajaran legenda seni di Indonesia, khususnya seni peran.

Meskipun lebih dikenal sebagai seniman peran, sebenarnya sosok Nano lebih besar dari itu. Nano juga seorang sastrawan, wartawan, dan juga guru/mentor bagi banyak orang.

Sebagai penulis naskah drama, banyak sekali karya yang sudah dihasilkan Nano seperti Rumah Kertas, J.J Atawa Jian Juhro, Maaf. Maaf. Maaf”, Kontes 1980, Trilogi Opera Kecoa, Konglomerat Burisrawa, Pialang Segitiga Emas, Suksesi, Opera Primadona, Sampek Engtay, Semar Gugat, dan lainnya.

Teater Koma, yang didirikannya adalah salah satu kelompok teater paling produktif di Indonesia dengan jumlah total pementasan di atas 100 kali.

Pencapaian luar biasa. Hebatnya lagi, setiap pementasan Teater Koma selalu dinanti oleh pecinta teater dan seni di Indonesia.

Di antara berbagai aktivitas yang dijalaninya, yang mungkin orang tidak terlalu memperhatikan

Nano adalah kemauannya untuk menjadi mentor atau guru kepada mereka yang ingin belajar teater. Nano juga tidak membatasi latar belakang dan usia orang yang mau belajar teater.

Hal tersebut terlihat dari kesanggupan Nano dalam mengajari peserta program Belajar Bersama Maestro (BBM) yang digagas Anies Baswedan saat menjadi Menteri Pendidikan.

Nano, masuk sebagai mentor yang mengajari murid-murid SMA/SMK yang ingin belajar teater di program Belajar Bersama Maestro.

Belasan murid tinggal di rumahnya selama sepekan untuk belajar teater. Ada yang berasal dari Aceh, Palembang, Balikpapan, Banten, Semarang, Brebes, Sangihe Talaud, Pematang Siantar, dan lainnya. Nano, turun langsung untuk mengajari murid-murid yang tertarik di bidang seni peran ini.

Inilah salah satu kehebatan Nano. Meski sudah menyandang gelar maestro, dia tetap membumi dan mau membimbing para remaja yang mungkin baru pertama mengenal apa dan bagaimana teater. Sebuah dedikasi yang luar biasa.

Dalam sebuah video dokuentasi yang dibuat oleh salah seorang peserta, dia merasa bahagia dan bangga bisa ikut program Belajar Bersama Maestro yang digagas oleh Anies Baswedan ini. Apalagi, dia bisa belajar dari maestro seperti Nano Riantiarno.

Sungguh beruntung anak-anak yang bisa mendapat bimbingan langsung dari Nano Riantiarno dan maestro-maestro seni lainnya. Hal ini menjadi bukti bahwa sebuah kebijakan yang tepat dari pejabat publik akan bisa menentukan keberlanjutan dunia seni.

Anak-anak yang mengikuti program Belajar Bersama Maestro di sanggar Teater Koma yang diasuh Nano waktu itu, sangat mungkin dan saya yakin, akan menjadi maestro-maestro seni peran dan teater di masa mendatang.

Selamat jalan Sang Maestro. Terima kasih atas peranmu dalam mewarnai dunia teater Indonesia. Istirahatlah dengan tenang, karena tunas-tunas telah tumbuh dan bersiap menjadi maestro di masa depan.

“Han Gagas, pengamat sosial-budaya sekaligu penulis novel dan skenario film “Balada Sepasang Kekasih Gila.” (Kus)

Comment