Pemuda Lesmana Sukses Jadi Pengusaha Jengkol, Raup Cuan Sejak Masih Kuliah

Pemuda Lesmana Sukses Jadi Pengusaha Jengkol, Raup Cuan Sejak Masih Kuliah

Banyumas – Di tengah pandangan umum bahwa jengkol hanyalah makanan kampung biasa, seorang pemuda asal Desa Lesmana, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, justru berhasil menjadikannya sebagai sumber penghasilan yang menjanjikan. Dialah Ifandi Pramugi Wiguna, 24 tahun, yang sukses menekuni usaha jual beli jengkol sejak masih kuliah.
Usaha ini mulai digelutinya pada tahun 2021 saat ia masih duduk di semester tiga di STMIK Muhammadiyah Paguyangan, Brebes. Bermodal pengalaman belajar dari orang tuanya yang juga bergelut di bidang serupa, Ifandi mulai menekuni bisnis jengkol secara mandiri.
“Saya mulai usaha jengkol pas kuliah semester tiga. Awalnya bantu orang tua, lama-lama belajar sendiri. Ternyata pasar jengkol luas banget, dan kalau harga naik, ya alhamdulillah bisa dapat untung lumayan,” ujar Ifandi saat ditemui di kediamannya, Jumat (01/08/2025).

Menurut Ifandi, saat ini harga eceran jengkol tua di pasar lokal bisa mencapai Rp 60.000 per kilogram, harga cenderung akan terusbalami kenaikan seiring langkanya pasokan jengkol. Namun, tingginya harga tersebut justru menjadi tantangan tersendiri karena pasokan jengkol kerap mengalami kelangkaan.
“Kelangkaannya ini biasanya karena pengiriman dari Kalimantan dan Sumatera habis. Jadi di sini, di Banyumas, sering kosong. Kita akhirnya cuma bisa andalkan jengkol lokal, itu pun jumlahnya terbatas,” jelasnya.

Ia menambahkan, wilayah Banyumas dan sekitarnya memang tidak memiliki petani jengkol secara khusus, sehingga sangat tergantung pada suplai dari luar daerah.
“Di Banyumas sendiri memang nggak ada petani jengkol. Kalau stok dari luar telat, ya kita paling cuma bisa nunggu dari Sumatera atau Kalimantan,” tambahnya.

Meski demikian, pemuda berwajah ramah ini mengaku bersyukur bahwa hingga saat ini usaha jengkol yang ia rintis masih berjalan lancar dan bisa memberikan penghasilan yang stabil. Tak hanya menjual ke pasar lokal, Ifandi juga mulai merambah pemasaran online melalui media sosial dan jaringan reseller.
Ifandi menjadi salah satu contoh bahwa peluang usaha bisa datang dari mana saja, bahkan dari komoditas yang seringkali dipandang sebelah mata. Ia berharap, ke depan lebih banyak anak muda yang berani memulai usaha sejak muda dan tidak gengsi menekuni sektor yang dianggap tidak populer.
“Jangan malu mulai dari bawah. Jengkol itu kan makanan rakyat, tapi kalau dikelola dengan baik, bisa jadi ladang rejeki,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *