14 Tahun Santuni Janda dan Anak Yatim, Mbah Bowo Gagas Satu Rumah Satu Sarjana
Banyumas – Selama 14 tahun Kepala Desa Karanglo, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Cipto Teguh Wibowo, membuktikan konsistensinya dalam membangun budaya sosial dan gotong royong di desanya. Pria yang akrab disapa mbah Bowo, secara pribadi mengadakan kegiatan santunan rutin setiap tanggal 10 Suro (bulan Muharram) kepada para janda sepuh dan anak yatim.
“Alhamdulillah, kegiatan santunan ini sudah berjalan selama 14 tahun. Jumlah yang disantuni saat ini mencapai 157 janda sepuh dan 25 anak yatim,” ujar Bowo sapaan akrab Kepala Desa Karanglo Cilongok Banyumas itu saat ditemui di Cilongok, hari Senin 7 Juli 2025.
Santunan tersebut biasanya berupa kebutuhan pokok dan bantuan dana, serta dilakukan dengan harapan memperkuat silaturahmi dan membantu ekonomi warga yang kurang mampu, khususnya para janda dan lansia yang sudah tidak dapat mencari penghasilan sendiri.
Tak hanya itu, Cipto juga memiliki kebiasaan berbagi hasil panen gabah kepada warga sekitar.
“Setiap kali panen, saya sisihkan sekitar 2 ton gabah. Setelah diselip jadi sekitar 1,5 ton beras, saya bagikan masing-masing warga 5 kilogram ke lingkungan sekitar. Tidak pandang kaya atau miskin, semua saya bagikan,” jelasnya.
Menjelang bulan suci Ramadan, Cipto kembali menunjukkan kepedulian sosialnya dengan membagikan paket sembako kepada para penerima santunan tahunan.
“Isinya biasanya beras 5 kilo dan minyak 1 kilo, dan jumlah penerimanya tetap, yaitu 157 janda dan 25 anak yatim,” tuturnya.
Menurutnya, kegiatan ini adalah bentuk rasa syukur sekaligus cara untuk membersihkan diri dan menebar manfaat.
“Saya tidak berharap apa-apa selain doa. Kalau bisa umur panjang, wajah muda, rezeki lancar, itu saja,” tambahnya sambil tersenyum.
Bangun Rumah untuk Janda Tak Mampu, Gunakan Dana Pribadi
Dalam beberapa hal mendesak, seperti janda sepuh yang tinggal di rumah tidak layak huni, Bowo tidak ragu menggunakan uang pribadi untuk membantu.
“Kalau yang seperti itu tidak bisa pakai dana desa, saya usahakan dari kantong sendiri,” katanya.
“Asalkan kriterianya jelas: rumah rusak berat, benar-benar tidak mampu. Bahkan dia Gagas Program “Satu Rumah Satu Sarjana”
Tak hanya itu saja, Bowo juga sedang merancang program pendidikan ambisius bertajuk “Satu Rumah Satu Sarjana”.
Harapannya, setiap keluarga di Desa Karanglo dapat menyekolahkan minimal satu anak hingga jenjang perguruan tinggi.
“Saya punya keinginan besar untuk menciptakan satu rumah satu sarjana. Saat ini saya sedang konsultasi dengan pihak terkait, apakah anggaran BLT bisa dialihkan ke program pendidikan ini,” ungkapnya.
Menurutnya, pendidikan adalah investasi masa depan desa. “Kalau saya mampu, saya ingin bantu kuliahkan anak-anak desa. Tapi akan lebih baik jika bisa didukung juga oleh program desa,” tegasnya.
Langkah-langkah yang dilakukan oleh Cipto Teguh Wibowo mencerminkan komitmen seorang pemimpin desa yang tidak hanya peduli secara ekonomi, tetapi juga berorientasi pada penguatan sumber daya manusia. Dalam menjalankan berbagai program tersebut, ia tetap mengedepankan prinsip transparansi, keadilan, dan semangat gotong royong.

















