Wajik Ketek, Kudapan Manis yang Lestarikan Kearifan Lokal Cikakak

Wajik Ketek, Kudapan Manis yang Lestarikan Kearifan Lokal Cikakak

Banyumas – Keunikan kuliner tradisional kembali hadir dari Desa Wisata Masjid Saka Tunggal Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Salah satunya adalah Wajik Ketek, olahan manis dari ketela yang namanya unik dan rasanya memikat.
Desa Cikakak tak hanya dikenal dengan wisata alam dan keberadaan ratusan monyet yang menarik perhatian wisatawan, tetapi juga dengan kuliner khasnya yang satu ini. Meski namanya terkesan lucu dan identik dengan hewan monyet, Wajik Ketek sama sekali tidak ada hubungannya dengan satwa tersebut.
Kudapan ini merupakan hasil olahan ketela tekong — sejenis singkong khusus yang menjadi ciri khas daerah Cikakak. Berbeda dari wajik pada umumnya yang terbuat dari beras ketan, Wajik Ketek diolah dari singkong, gula merah, santan, dan sedikit jahe yang memberi aroma khas. Adonan dimasak sambil terus diaduk hingga airnya mengering dan teksturnya menjadi kental serta lengket.
Proses pembuatannya membutuhkan kesabaran dan ketelatenan karena adonan harus terus diaduk agar tidak gosong. Setelah matang, adonan didinginkan, dipotong kecil, lalu dibungkus plastik dan dikemas dalam besek bambu yang ramah lingkungan. Kemasannya sederhana namun menarik, menjadikannya oleh-oleh khas yang mulai banyak diminati wisatawan.
Salah satu pengunjung asal Purwokerto, Muhlisanur Laili, mengaku datang ke Cikakak setelah melihat unggahan tentang Wajik Ketek di media sosial.
“Awalnya saya kira ada hubungannya dengan monyet, ternyata tidak sama sekali. Wajik Ketek ini dibuat dari singkong khusus, rasanya manis, gurih, dan ada aroma jahenya. Enak banget dan cocok buat oleh-oleh,” ujar Laili.

Nama Wajik Ketek sendiri berasal dari bahan utamanya — ketela tekong — serta sebutan “ketek” yang dalam bahasa lokal berarti monyet. Sebutan ini sekaligus menjadi ciri khas Desa Cikakak yang memang dikenal sebagai habitat alami ratusan monyet.
Saminah, salah satu perajin Wajik Ketek, menjelaskan bahwa kuliner ini merupakan hasil kreativitas ibu-ibu di desanya.
“Wajik Ketek itu wajik asli dari Cikakak. Karena di sini banyak ketela, jadi ibu-ibu bikin wajik dari ketela tekong. Namanya diambil dari bahan dan dari sebutan monyet di sini, yaitu ketek. Sekali produksi bisa sampai 20 kilo, dijual Rp20 ribu per besek,” tuturnya.

Tanpa menggunakan bahan pengawet, Wajik Ketek hanya mampu bertahan sekitar tiga hingga empat hari. Namun cita rasa manis dan teksturnya yang lembut membuat banyak wisatawan rela datang langsung untuk membelinya sebagai oleh-oleh khas Cikakak.
Dari dapur sederhana kelompok ibu-ibu PKK Desa Cikakak, Wajik Ketek lahir bukan sekadar kudapan manis, tetapi juga simbol kearifan lokal, ketekunan, dan cinta terhadap tradisi yang terus dijaga di tengah geliat pariwisata desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *