Jakarta – Keberadaan fasilitas pengolahan sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, kembali menuai penolakan warga. Bau tidak sedap yang diduga berasal dari fasilitas tersebut memicu aksi unjuk rasa warga Jakarta Garden City (JGC), Cakung, Jakarta Timur.
Sekitar 250 warga dari tiga klaster menggelar aksi protes di depan kantor pengelola perumahan JGC, Sabtu (17/1/2026). Mereka menyuarakan kekecewaan atas dampak bau menyengat yang hingga kini masih dirasakan warga.
Koordinator aksi, Wahyu Maryono, menilai keberadaan fasilitas RDF Rorotan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memberikan dampak negatif bagi lingkungan permukiman warga.
“Warga memprotes bau menyengat yang diduga berasal dari RDF Rorotan. Persoalan ini belum juga ditangani secara serius dan justru seolah dibebankan kepada warga serta pengurus RT,” ujar Wahyu.
Dirinya menyebut lokasi fasilitas pengolahan sampah tersebut tidak jauh dari permukiman, sehingga bau tidak sedap kerap tercium hingga ke kawasan hunian.
“Kami juga prihatin dengan bau RDF yang masih tercium sampai sekarang. Manajemen terkesan buang badan, seolah itu bukan urusan mereka,” katanya.
Selain itu, persoalan bau, warga juga mengeluhkan kondisi jalan utama, fasilitas sosial (fasos), dan fasilitas umum (fasum) di sekitar kawasan komersial JGC yang mengalami kerusakan parah. Padahal, warga mengaku rutin membayar iuran pemeliharaan lingkungan (IPL).
“Kalau bapak ibu berkunjung ke kawasan AEON Mall atau IKEA JGC, bisa langsung merasakan jalanannya seperti medan off-road. Ini sudah lama kami keluhkan, tapi kesan manajemen hanya main-main,” ujar Wahyu.
Warga juga menuntut transparansi dalam pengelolaan dana IPL. Mereka bahkan mendesak agar pengelolaan iuran tersebut diserahkan kepada warga atau pengurus lingkungan karena dinilai tidak transparan.
“Mereka mampu menjual unit hunian, tetapi tidak mau mengelola kenyamanan warga. Karena itu, kami meminta pengelolaan IPL dilakukan secara mandiri oleh warga,” tegasnya.
Dalam aksi unjuk rasa tersebut, diwarnai dengan penyebaran sampah dan penanaman pohon pisang sebagai simbol protes atas buruknya pengelolaan lingkungan di kawasan hunian JGC.
Warga menegaskan aksi tidak akan berhenti apabila tuntutan mereka tidak segera ditindaklanjuti. Mereka bahkan mengancam akan menggelar aksi lanjutan di Kantor Gubernur DKI Jakarta guna meminta intervensi langsung dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
(Wahyuni adina putri)











