SDN 2 Semedo Peringati Hari Batik Nasional dengan Ecoprint Terpanjang
Banyumas – Peringatan Hari Batik Nasional di SD Negeri 2 Semedo, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, berlangsung unik dan edukatif.
Para siswa, guru, wali murid, serta komite sekolah bersama-sama membuat karya seni ecoprint terpanjang yang kemudian dipasang di sepanjang jalan desa. Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap batik ramah lingkungan sekaligus penerapan Kurikulum Merdeka.
Rangkaian kegiatan diawali dengan arak-arakan kain putih sepanjang puluhan meter dari batas desa menuju sekolah. Arakan ini diiringi lantunan hadrah dan selawat Nabi, menambah suasana religius sekaligus meriah. Kain putih yang dibawa bersama-sama tersebut melambangkan kesucian dan niat tulus dalam memulai kegiatan.
Setibanya di sekolah, kain putih digelar di halaman. Secara serentak, siswa dan guru mulai memproses ecoprint dengan memanfaatkan daun dan bunga dari lingkungan sekitar. Suasana penuh kreativitas tercipta ketika suara palu memukul daun-daun hingga membentuk motif alami di atas kain.
Kepala SDN 2 Semedo, Guntur Danang, menyebut kegiatan ini sebagai momen penting untuk menanamkan rasa cinta batik kepada siswa.
“Melalui ecoprint, anak-anak tidak hanya belajar mengenal batik, tapi juga menjaga lingkungan dengan memanfaatkan bahan alam di sekitar. Harapan kami, mereka bukan hanya bangga memakai batik, tapi juga kreatif dan peduli pada lingkungan,” jelasnya.
Ecoprint terpanjang yang berhasil dibuat kemudian dibentangkan di jalan desa sehingga bisa dinikmati masyarakat maupun pengguna jalan yang melintas. Warga pun memberikan apresiasi atas kreativitas siswa dan guru.
Salah satu siswi, Cantika Octavia Rahayu, mengaku bangga bisa ikut serta dalam kegiatan tersebut.
“Saya senang ikut memperingati Hari Batik Nasional. Bersama teman-teman membuat ecoprint dari daun singkong, pepaya, jambu, dan bunga. Prosesnya mudah, dipukul dengan palu, hasilnya sekitar 50 meter. Baru pertama kali membuat, rasanya bangga dan bahagia,” ujarnya.
Kegiatan inovatif ini tidak hanya menjadi sarana kreativitas siswa, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Melalui ecoprint, batik tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya bangsa, tetapi juga sumber inspirasi untuk terus berkreasi dengan cara yang ramah alam.














