Menyambut Palmex 2026, PT PAS Buktikan “Go Sustainable Forever” Polisi Hutan Berkuda, Limbah Cangkang Jadi Pupuk, Hingga Sungai Terjaga

PT PAS melalui Marcom, Tazkiya, hadirkan praktik kelapa sawit berkelanjutan yang jarang diketahui publik: jarak sungai, uji limbah di laboratorium, hutan lindung untuk bekantan, dan sertifikat dari pusat penelitian Sebentar lagi, dunia industri kelapa sawit akan kembali berpusat di Jakarta. Palmex Jakarta ke-16 — pameran teknologi kelapa sawit internasional berskala besar — kembali hadir pada 6–7 Mei 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran. Mengusung tema “Mendorong Industri Kelapa Sawit Global Melalui Inovasi dan Transformasi Digital”, pameran ini menjadi wadah pertemuan pelaku industri, pemangku kepentingan, dan investor global.

Namun di tengah hiruk-pikuk teknologi mesin press, drone pemantau lahan, dan sistem manajemen rantai pasok digital, ada satu cerita yang tak kalah penting: bagaimana sebuah perusahaan sawit menepati janji keberlanjutannya hingga ke akar rumput. PT PAS, yang dikelola oleh Tazkiya selaku Marcom, mengusung tagline yang terdengar ambisius: Go Sustainable Forever. Dan mereka tidak hanya mengucapkannya di stan pameran.

Bentuk Nyata “Go Sustainable Forever”: Dari Jarak Sungai hingga Polisi Hutan Berkuda

Langkah pertama yang paling mendasar namun sering diabaikan perkebunan sawit adalah jarak antara sungai dengan perkebunan. Menurut tim teknis PT PAS, buffer zone ini bukan sekadar garis imajiner. Ia adalah paru-paru air yang menjaga ekosistem riparian tetap hidup. “Kami pastikan tidak ada aktivitas penanaman di sempadan sungai,” jelas Tazkiya, Marcom PT PAS, dalam wawancara eksklusif dengan Kompasiana.com, Kamis (25/4/2025).

“Ini seperti apa sih? Orang pengen tahu, dosis yang ‘nombor korek-korek’ itu seperti apa bentuknya?” ujarnya menirukan pertanyaan publik yang kerap skeptis.

Kedua, soal limbah. Di perkebunan kelapa sawit, limbah datang dalam tiga rupa: padat (cangkang, serat/fiber), cair, dan gas. PT PAS menerapkan prinsip zero waste dengan pendekatan sirkular:

* Cangkang sawit tidak dibuang, melainkan dijadikan bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga biomassa di lokasi.
* Fiber (serat) yang terjangkit jamur atau kotor (“fiber jump cost”) diolah ulang menjadi bahan pakan ternak.
* Limbah cair — yang biasanya menjadi momok pencemaran sungai — mengalami proses pengolahan multi-tahap.

“Sebelum dibuang ke sungai, kami tes di laboratorium internal. Kadar asam-basah (pH dan BOD) harus dinyatakan aman. Baru kami alirkan,” tegas Tazkiya.

Yang paling menarik dan langka ditemui di perkebunan sawit skala menengah adalah keberadaan polisi hutan berseragam dan berkuda. Di area hutan lindung yang disisipkan di tengah konsesi, PT PAS mempekerjakan petugas keamanan yang rutin berpatroli dengan kuda untuk memantau potensi penebangan liar atau perambahan hutan.

“Di hutan lindung itu hidup monyet bekantan. Mereka adalah indikator alami bahwa ekosistem masih sehat. Kami tidak ingin mereka terusik,” ujar Tazkiya.

Bukan Sekadar Omongan: Ada Sertifikat dari Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit

Praktik baik semestinya mendapatkan pengakuan. PT PAS tidak hanya bercerita, tetapi juga mengoleksi sertifikat. Salah satu yang paling dibanggakan adalah Sertifikat Penghargaan Produk Terbaik dari Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Sertifikat ini diberikan setelah melalui uji kualitas produksi dan kepatuhan terhadap parameter keberlanjutan.

“Kalau untuk detail lengkap tentang sertifikat keberlanjutan, itu ada di Bursur,” ungkap Tazkiya, merujuk pada pabrik pengolahan milik PT Cipta Usaha Sejati (afiliasi PT PAS). Di lokasi itulah tersimpan dokumen-dokumen seperti hasil verifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) atau sertifikasi lain yang masih dalam proses.

“Bahkan sertifikat itu menjadi salah satu syarat untuk menjalankan bisnis kelapa sawit yang sah dan etis,” imbuhnya.

Palmex 2026: Panggung untuk Menunjukkan Bahwa Sawit Berkelanjutan Itu Nyata

Pameran Palmex Jakarta ke-16 bukan sekadar ajang pamer mesin dan teknologi. Lebih dari itu, pameran yang mengusung transformasi digital ini menjadi momentum strategis bagi seluruh pemangku kepentingan — dari petani swadaya hingga pemilik konsesi besar — untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan.

Industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor dengan peran strategis dalam perekonomian nasional Indonesia. Tidak hanya menjadi sumber devisa, industri ini juga berperan sebagai penggerak ekonomi daerah, penyerap tenaga kerja raksasa, serta pilar ketahanan energi nasional melalui program biodiesel yang terus diperluas. Arah kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pertanian saat ini pun tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi di sektor hulu, tetapi juga pada penguatan hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri.

Dalam konteks itulah, praktik yang dijalankan PT PAS menjadi relevan.

“Ketika pembeli global datang ke Palmex dan bertanya, ‘Buktikan bahwa sawit Anda ramah lingkungan?’, kami bisa menjawab: datanglah ke kebun kami. Lihat sendiri polisi hutan berkuda, lihat bekantan, lihat hasil uji limbah kami,” kata Tazkiya.

Mengapa Ini Penting? Sawit Nasional Butuh Model Reproduksi

Konteks kebijakan makro: Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus menekan angka deforestasi yang disebabkan oleh perkebunan sawit ilegal atau tidak berkelanjutan. Uni Eropa melalui EU Deforestation Regulation (EUDR) semakin memperketat impor komoditas yang berisiko deforestasi.

Di tengah tekanan itu, praktik “nombor korek-korek” (istilah lokal untuk meneliti setiap detail) yang dilakukan PT PAS menjadi semacam proof of concept bahwa sawit dan lingkungan tidak harus berseberangan. Ada jalan tengah: sungai yang tetap jernih, polisi hutan yang berkuda, limbah yang tidak pernah kabur ke ekosistem.

“Go Sustainable Forever bukanlah sekadar tagline pemasaran. Ini adalah janji operasional yang kami buktikan setiap hari, dari pagi hingga patroli malam. Dan kami akan tunjukkan itu semua di Palmex nanti,” tutup Tazkiya, Marcom PT PAS.

Tentang PT PAS
PT PAS adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit berkelanjutan. Dengan kebun dan pabrik di kawasan Bursur, Kalimantan, PT PAS mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular, perlindungan hutan lindung, serta pengelolaan limbah berbasis laboratorium.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *