Semangat Raden Ajeng Kartini di Balik Ketegasan Ibu: Berliana Putri Tembus Universitas Gadjah Mada

Semangat Raden Ajeng Kartini di Balik Ketegasan Ibu: Berliana Putri Tembus Universitas Gadjah Mada

Banyumas — Di momen peringatan Hari Kartini setiap 21 April, kisah perjuangan perempuan kembali menemukan maknanya. Bukan hanya tentang emansipasi di ruang publik, tetapi juga tentang kekuatan seorang ibu dalam membentuk masa depan anaknya. Hal itu tergambar jelas dalam perjalanan Natasa Berliana Putri, siswi asal Desa Perembun, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, yang berhasil menembus Universitas Gadjah Mada melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Di balik pencapaian itu, berdiri sosok Sri Yuantini (48), seorang ibu sekaligus pengacara yang dikenal tegas dalam mendidik. Dari rumah sederhana di Desa Perembun, ia menanamkan nilai disiplin, kemandirian, dan keberanian sejak dini kepada putrinya.

Bertepatan dengan semangat Hari Kartini, rasa haru dan bangga tak dapat disembunyikan. Dengan suara bergetar, Sri Yuantini mengenang perjalanan panjang anaknya yang penuh tantangan.

“Saya sebagai orang tua tentu terenyuh dan bangga. Dari awal belajar sampai diterima di perguruan tinggi, saya terus mendukung. Bahkan saat dia sempat pesimis masuk UGM, saya dorong untuk tetap mencoba,” tuturnya.

Baginya, keberanian adalah kunci utama. Ia selalu mengingatkan Berliana untuk tidak menyerah sebelum berusaha.

“Kalau belum dicoba, jangan pesimis. Saya selalu beri arahan positif supaya dia yakin,” ujarnya.

Keputusan Berliana memilih UGM pun menjadi titik penting. Meski sempat mempertimbangkan Institut Teknologi PLN yang menawarkan jalur lebih pasti, sang ibu tetap memberikan dukungan penuh terhadap pilihan anaknya.

Ia percaya, pendidikan di UGM akan membuka peluang lebih luas di masa depan. “Insya Allah lulusan UGM punya banyak kesempatan. Yang penting sekarang fokus kuliah, nanti bisa cari beasiswa dan berkembang,” katanya optimistis.

Namun, di balik dukungan penuh itu, tersimpan pola asuh yang tak biasa. Sri Yuantini mengakui dirinya mendidik anak dengan disiplin tinggi, bahkan cenderung keras. Bukan tanpa alasan—ia ingin anaknya tumbuh mandiri dan tangguh menghadapi kehidupan.

“Saya tidak suka memanjakan. Saya ingin anak saya kuat. Dari kecil sudah terlihat potensinya, selalu peringkat satu sejak SD, lalu SMP juga tiga besar,” kenangnya.

Nama “Berliana” yang disematkan pun sarat makna. Sebuah doa agar sang anak bersinar seperti berlian – kuat, cerdas, dan bernilai tinggi. “Itu harapan saya, supaya dia bisa bersinar,” tambahnya.

Kini, langkah Berliana memasuki babak baru. Dunia perkuliahan menanti dengan tantangan yang lebih besar. Namun dengan bekal disiplin, semangat, dan doa orang tua, ia diyakini mampu melangkah jauh.

Kisah ini menjadi refleksi di Hari Kartini – bahwa perjuangan perempuan tidak hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga di dalam keluarga. Ketegasan, cinta, dan doa seorang ibu mampu mengubah keraguan menjadi keyakinan, serta mimpi menjadi kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *