Dari Cilongok untuk Indonesia: ZIIS Banyumas Tancap Gas Lawan ATS Lewat Gedung Satria dan 21 PKBM

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 45;
Dari Cilongok untuk Indonesia: ZIIS Banyumas Tancap Gas Lawan ATS Lewat Gedung Satria dan 21 PKBM

BANYUMAS – Dari sebuah sudut di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, harapan itu kembali dinyalakan. Pondok Pesantren Modern ZIIS Banyumas tak sekadar meresmikan Gedung Satria, tetapi juga mengirim pesan kuat: perlawanan terhadap anak tidak sekolah (ATS) harus dimulai sekarang, dan harus melibatkan semua pihak.

Sabtu (25/4/2026), langkah itu dipertegas. Di hadapan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dan Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, ZIIS meresmikan Gedung Satria, meluncurkan 21 PKBM Surya Muhammadiyah, sekaligus memulai pembangunan Padepokan Tapak Suci.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya rangkaian seremoni. Namun bagi dunia pendidikan akar rumput, ini adalah alarm—bahwa masih banyak anak bangsa yang tercecer dari sistem, dan membutuhkan jalan pulang bernama pendidikan.

Pimpinan Ponpes ZIIS, KH Casiwan Haryo Sasongko, tak menutup-nutupi kenyataan itu. Dengan nada tegas, ia menyebut tren putus sekolah bukan lagi isu pinggiran, melainkan persoalan serius yang terus membesar. “Ini bukan hal sepele. Banyak anak berhenti setelah SMP. Kalau tidak kita tangani, kita akan kehilangan generasi,” ujarnya.

Bagi ZIIS, solusi tak cukup dengan wacana. PKBM diluncurkan sebagai bentuk “aksi nyata” – sebuah ruang alternatif bagi mereka yang sempat terhenti langkahnya. Di sisi lain, model pendidikan pesantren enam tahun terus didorong sebagai benteng karakter sekaligus jembatan keberlanjutan pendidikan.

Di panggung yang sama, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengurai akar persoalan yang selama ini kerap luput dari perhatian. Pendidikan, katanya, sering kali terjebak dalam definisi sempit: sekolah formal.

Padahal realitas di lapangan jauh lebih kompleks. “Banyak anak merasa cukup sampai SMP. Ada yang memilih bekerja karena penghasilan harian terlihat lebih pasti. Ada juga yang terhenti karena ekonomi, pernikahan dini, atau akses yang sulit,” ungkapnya.

Fakta itu, menurutnya, tidak bisa dijawab dengan cara lama. Dibutuhkan pendekatan baru—pendidikan yang lentur, terjangkau, dan benar-benar hadir di tengah masyarakat. “Pendidikan itu bukan soal gedung atau seragam. Intinya adalah belajar. Dan belajar harus bisa dijangkau semua orang,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Sadewo Tri Lastiono melihat momentum ini sebagai lebih dari sekadar pembangunan fisik. Ia menyebutnya sebagai investasi jangka panjang—bukan hanya untuk infrastruktur, tetapi untuk manusia.

“Ini tentang masa depan. Tentang bagaimana kita memastikan setiap anak Banyumas punya kesempatan yang sama untuk maju,” katanya.

Ia pun mengakui, di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan pesantren dan masyarakat menjadi kunci agar tidak ada lagi anak yang tertinggal.

Peletakan batu pertama Padepokan Tapak Suci menjadi simbol lain dari upaya tersebut – bahwa pendidikan bukan hanya soal intelektual, tetapi juga pembentukan karakter dan ketahanan diri. Sejalan dengan itu, ZIIS terus menguatkan identitasnya melalui kegiatan unggulan seperti berkuda, memanah, dan berenang – menggabungkan tradisi, disiplin, dan nilai keislaman dalam satu napas pendidikan.

Dari Cilongok, pesan itu menggema: pendidikan tidak boleh eksklusif. Ia harus terbuka, merangkul, dan memberi ruang kedua bagi mereka yang sempat tertinggal.

Dan lewat 21 PKBM yang diluncurkan hari itu, Banyumas mencoba menjawab tantangan tersebut – bukan dengan janji, tetapi dengan langkah nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *