Dari Dunia Perhotelan ke UMKM Kuliner, Mie Ayam Yangkung Tampil Memikat Pelanggan
Banyumas – Di tengah persaingan kuliner yang kian ketat, sebuah warung sederhana di kawasan jalan Raya Pandansari, Ajibarang, justru berhasil mencuri perhatian pelanggan. Warung bertajuk Mie Ayam Yangkung ini dirintis oleh Supriyono, seorang mantan pekerja hotel yang kini menekuni usaha kuliner berbasis masakan rumahan dengan standar kualitas tinggi.
Berlokasi strategis di depan Lapangan Diong Desa Pandansari, warung ini tak hanya mengandalkan posisi, tetapi juga cita rasa dan komitmen terhadap kualitas bahan. Supriyono mengungkapkan bahwa pengalaman bekerja di industri perhotelan memberinya bekal penting dalam mengolah makanan secara profesional.
“Saya belajar banyak dari chef di hotel, lalu saya bandingkan dengan masakan rumah. Ternyata keluarga saya sangat suka, apalagi cucu saya,” ujarnya.
Dari situlah muncul ide membuka usaha sendiri. Nama “Yangkung” dipilih sebagai bentuk kedekatan personal – sebutan untuk kakek yang melekat pada dirinya sebagai sosok yang kini telah memiliki cucu.
Berbeda dari banyak pelaku usaha sejenis, Supriyono menaruh perhatian khusus pada kualitas bahan baku. Ia mengaku hanya menggunakan bahan premium dan menghindari penggunaan bahan kimia berlebihan.
“Kebetulan anak saya seorang dokter, jadi saya sering diingatkan soal bahan makanan. Saya berusaha pakai bahan yang benar-benar bagus dan bumbu juga saya racik sendiri secara tradisional,” jelasnya.
Menu yang ditawarkan terbilang sederhana, yakni mi ayam dengan berbagai pilihan topping seperti bakso, pangsit, dan ceker. Namun, keunikan terletak pada penggunaan daging ayam bagian dada tanpa tulang untuk menjaga kenyamanan saat makan. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, mulai dari Rp12.000 per porsi, mengikuti standar harga di wilayah Ajibarang.
Selain makanan utama, tersedia pula minuman seperti es teh, es jeruk, lemon tea, hingga minuman khas “Cocolin” (kelapa muda campur lemon) sebagai pelengkap.
Di luar dugaan, warung ini mendapat respons positif dari masyarakat. Supriyono awalnya menargetkan penjualan sekitar 10–12 kilogram bahan per hari. Kini, ia mampu menghabiskan hingga 15–20 kilogram, bahkan sering kali dagangannya habis sebelum waktu tutup.
“Kadang jam tiga atau empat sore sudah habis. Justru paling ramai saat jam istirahat kantor,” katanya.
Dengan kapasitas tempat sekitar 20 orang, lonjakan pelanggan kerap membuat area sekitar, termasuk teras rumah, turut digunakan untuk menampung pengunjung.
Dalam hal pelayanan, kebersihan menjadi prioritas utama. Supriyono meyakini bahwa kenyamanan pelanggan tidak hanya ditentukan oleh rasa makanan, tetapi juga kondisi tempat makan.
“Saya sendiri kalau datang ke warung yang mejanya kotor, langsung tidak selera. Jadi saya jaga betul kebersihan di sini,” tegasnya.
Salah satu pelanggan, Teguh Suprianto, mengaku puas dengan cita rasa yang ditawarkan. Ia menilai tekstur mi yang lembut dan kuah yang gurih menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan mi ayam lain di sekitarnya.
“Mie-nya lembut, dagingnya juga empuk. Tempatnya bersih dan nyaman, harganya juga terjangkau,” ungkapnya.
Meski berada di kawasan dengan lebih dari sepuluh penjual mi ayam, Supriyon tidak menganggapnya sebagai hambatan. Ia percaya setiap pedagang memiliki rezeki masing-masing.
Dengan pendekatan sederhana namun konsisten pada kualitas, Mi Ayam Yangkung menjadi bukti bahwa usaha kuliner berbasis pengalaman, nilai keluarga, dan komitmen terhadap mutu masih memiliki tempat kuat di hati masyarakat.

















