PURWOKERTO — Lonjakan kebutuhan uang riyal Arab Saudi menjelang musim haji dimanfaatkan pelaku jasa penukaran uang di sejumlah daerah. Di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, calon jamaah haji berdesakan memburu pecahan kecil, meski harus menukar dengan kurs yang lebih tinggi dibandingkan perbankan.
Aktivitas penukaran uang terlihat padat di kawasan Pendopo Si Panji, Rabu pagi. Puluhan calon jamaah haji memadati lapak penukaran yang juga menjual perlengkapan ibadah. Fokus utama mereka adalah mendapatkan pecahan kecil, seperti 5 dan 10 riyal, yang dianggap lebih praktis untuk transaksi sehari-hari di Arab Saudi.
Tingginya permintaan membuat perputaran uang di lapak penukaran meningkat tajam. Salah satu penyedia jasa, Muhyiddin Rudi, menyebut total distribusi riyal yang telah disalurkan mencapai sekitar 22 juta riyal.
Menurutnya, pecahan kecil paling diburu karena memudahkan jamaah saat bertransaksi tanpa harus berkomunikasi panjang. Namun, kemudahan tersebut datang dengan harga lebih tinggi. Kurs yang ditawarkan di lapak mencapai sekitar Rp5.100 per riyal untuk pecahan kecil, melampaui kurs resmi perbankan. Selisih ini menjadi konsekuensi yang harus diterima calon jamaah demi kepraktisan. “Permintaan paling banyak memang pecahan kecil.
Jamaah butuh untuk kebutuhan harian,” ujar Muhyiddin.
Meski mengetahui adanya potensi selisih harga, sebagian calon jamaah tetap memilih jalur nonformal. Akses yang mudah dan ketersediaan pecahan kecil menjadi alasan utama.
Evi, salah satu calon jamaah, mengaku menukar Rp510 ribu untuk mendapatkan 20 lembar pecahan 5 riyal. Ia tidak mempermasalahkan perbedaan kurs dengan bank.
“Yang penting praktis. Buat uang saku di sana,” katanya singkat.
Fenomena ini diperkirakan akan terus meningkat seiring mendekatnya jadwal keberangkatan haji. Namun, masyarakat diingatkan untuk tetap waspada terhadap selisih kurs dan risiko keamanan transaksi, terutama saat menukar uang di luar lembaga resmi.











