Warga Lestarikan Tradisi Suran, Perkuat Gotong Royong dan Doa Bersama Sambut Bulan Sura

Warga Lestarikan Tradisi Suran, Perkuat Gotong Royong dan Doa Bersama Sambut Bulan Sura

Banyumas – Dalam rangka menyambut datangnya Bulan Sura, warga RT 06 RW 03 Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, menggelar tradisi Suran secara gotong royong pada Minggu malam. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini diisi dengan penyembelihan kambing, tradisi nuju desa, tahlil, doa bersama, hingga makan bersama sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyembelihan seekor kambing yang kemudian dimasak bersama oleh warga. Selain mengolah daging kambing, masyarakat juga menyiapkan rujak sebagai salah satu hidangan khas yang selalu hadir dalam perayaan Suran. Seluruh proses dilakukan secara bergotong royong, mencerminkan kuatnya kebersamaan yang masih terjaga di tengah masyarakat.

Sebelum pelaksanaan doa bersama, warga terlebih dahulu mengikuti tradisi nuju desa dengan berjalan kaki mengelilingi kampung sejauh kurang lebih satu kilometer. Prosesi berlangsung khidmat sebagai simbol doa dan harapan agar desa senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian, serta keberkahan.

Suasana semakin semarak dengan keikutsertaan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Kaum perempuan mengenakan kebaya dan kain batik, sedangkan kaum laki-laki memakai baju koko dan sarung sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan para leluhur.

Setelah prosesi nuju desa, warga berkumpul mengikuti tahlil dan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat. Kegiatan tersebut menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan agar masyarakat diberikan keselamatan, kesehatan, serta kelancaran rezeki dalam menjalani tahun yang baru.

Ketua panitia, Sunarso Candra, mengatakan tradisi Suran terus dipertahankan karena merupakan warisan leluhur yang sarat nilai kebersamaan.

“Tradisi ini kami pertahankan karena merupakan warisan leluhur. Selain sebagai bentuk rasa syukur, kegiatan ini juga mengingatkan kami agar terus menjaga nilai-nilai tradisi, kebersamaan, dan gotong royong yang sudah diwariskan sejak dahulu.

Harapan kami, tradisi ini semakin mempererat persaudaraan, meningkatkan semangat gotong royong, serta membawa keberkahan sehingga masyarakat semakin sejahtera, baik dari sisi ekonomi maupun kehidupan sosial,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi Suran tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat silaturahmi antarmasyarakat. Seluruh warga terlibat aktif dalam setiap rangkaian kegiatan sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian terhadap warisan budaya yang dimiliki desa.

Melalui doa bersama, warga berharap tahun baru dalam penanggalan Jawa membawa berbagai kebaikan. Para petani berharap hasil panen semakin melimpah, para pedagang menginginkan usahanya semakin lancar, sementara masyarakat secara umum memohon agar kehidupan sosial dan ekonomi semakin baik.

Tradisi Suran yang masih lestari hingga kini menjadi bukti kuatnya kearifan lokal masyarakat Banyumas. Melalui kebersamaan, gotong royong, dan doa, warga tidak hanya menjaga harmoni sosial, tetapi juga mewariskan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi penerus agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *