Ratusan Pensiunan Korban Kredit Bermasalah Mandiri Taspen Siap Gelar Aksi Damai

Ratusan Pensiunan Korban Kredit Bermasalah Mandiri Taspen Siap Gelar Aksi Damai

PURWOKERTO – Ratusan pensiunan yang mengaku menjadi korban dugaan kredit bermasalah di Bank Mandiri Taspen berencana menggelar aksi damai pada Jumat (26/6/2026). Aksi tersebut akan diawali dengan long march dari Kantor Klinik Hukum Peradi SAI di Jalan Sidanegara Gang II Nomor 45, Purwokerto, menuju kantor Bank Mandiri Taspen Purwokerto.

Rencana aksi damai itu mengemuka saat sekitar 120 perwakilan pensiunan berkumpul di Kantor Klinik Hukum Peradi SAI, Minggu (21/6/2026) pagi. Mereka meminta adanya penyelesaian terhadap persoalan kredit yang dinilai merugikan para nasabah pensiunan.

Kuasa hukum para korban, Djoko Susanto, mengatakan para pensiunan telah berupaya menempuh jalur komunikasi dengan pihak bank melalui somasi. Namun hingga saat ini, menurutnya, belum ada respons yang memuaskan dari pihak Mandiri Taspen.

“Hari ini kami kedatangan perwakilan nasabah Taspen yang berjumlah sekitar 120 orang. Mereka mendesak agar segera dilakukan proses penyelesaian terkait kredit bermasalah yang terjadi di Mandiri Taspen Purwokerto,” ujar Djoko.

Ia menjelaskan, aksi damai direncanakan berlangsung pada Jumat pagi dengan berjalan kaki dari Klinik Hukum Peradi SAI menuju kantor Mandiri Taspen. Menurutnya, aksi tersebut bertujuan menyuarakan aspirasi para nasabah yang merasa dirugikan.

Djoko menilai langkah aksi damai diambil setelah upaya somasi yang telah dilayangkan tidak mendapatkan tanggapan. Karena itu, pihaknya berharap manajemen Mandiri Taspen segera membuka ruang dialog dan memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi para pensiunan.

Sementara itu, salah satu pensiunan yang mengaku terdampak, Pujo (67), warga Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, mengaku kondisi ekonomi para pensiunan semakin sulit akibat persoalan yang mereka hadapi.

Menurut Pujo, aksi damai dilakukan agar pihak bank memahami kondisi para pensiunan yang selama ini kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia mengaku banyak pensiunan terpaksa berutang untuk memenuhi kebutuhan pokok karena tidak lagi memiliki dana yang cukup.

“Gerakan damai ini supaya Bank Mandiri Taspen mengerti kesulitan kami. Untuk kebutuhan sehari-hari saja kami harus berutang. Banyak yang ditagih warung karena tidak mampu membayar kebutuhan pokok,” katanya.

Pujo menyebut persoalan tersebut telah menjadi puncak kekecewaan para pensiunan. Ia berharap melalui aksi damai yang akan digelar, suara para nasabah dapat didengar dan mendapat perhatian serius dari pihak terkait.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, jumlah pensiunan yang mengaku menjadi korban dugaan kredit bermasalah di Mandiri Taspen mencapai 120 orang. Para pensiunan tersebut mengklaim mengalami kerugian dengan nilai total yang diperkirakan mencapai sekitar Rp25 miliar.

Melalui aksi damai yang akan digelar pada 26 Juni mendatang, mereka berharap pihak Mandiri Taspen segera memberikan tanggapan serta membuka ruang penyelesaian yang adil dan transparan terhadap permasalahan yang mereka hadapi. Hingga kini, para korban masih menantikan kejelasan dan langkah konkret dari pihak bank terkait tuntutan yang telah mereka sampaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *