Purwokerto — Pemerintah menegaskan komitmennya dalam memperkuat pendidikan vokasi melalui program revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang terus berlanjut hingga 2026. Dalam kunjungan kerja ke Banyimas Sabtu (25/04/2026) kemarin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya pemanfaatan sarana dan prasarana pendidikan secara optimal demi meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Banyumas. Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung kejadian viral terkait penggunaan fasilitas sekolah yang dinilai kurang tepat.
“Semua sarana dan prasarana harus dimanfaatkan sesuai tujuan, yakni untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan pendidikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti memastikan bahwa program revitalisasi dan digitalisasi pendidikan akan terus dilanjutkan. Pemerintah, kata dia, telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp14 triliun dalam APBN 2026 untuk mendukung revitalisasi 11.744 satuan pendidikan yang telah melalui proses verifikasi dan validasi.
Di lapangan, program revitalisasi SMK mulai menunjukkan dampak nyata. Sejumlah sekolah di Kabupaten Cilacap melaporkan peningkatan signifikan dalam kualitas pembelajaran setelah menerima bantuan sarana dan prasarana.
Kepala SMK Karya Tuna Nusantara Wanareja, Anas Dalu Sudrajat, menyampaikan bahwa pembaruan fasilitas membawa perubahan positif terhadap proses belajar mengajar. Ia menilai revitalisasi bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang bagi peningkatan mutu pendidikan vokasi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Prabowo Subianto dan Kemendikdasmen. Revitalisasi ini adalah amanah besar yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kompetensi siswa,” ujarnya.
Menurutnya, program revitalisasi yang diterima pada 2025 mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran, terutama dalam penguasaan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Fasilitas yang lebih modern membuat pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kebutuhan industri.
Hal serupa disampaikan Dwi Feni Indarti dari SMK YPE Sampang. Ia mengungkapkan bahwa sebelum adanya bantuan revitalisasi, sekolahnya menghadapi keterbatasan fasilitas praktik.
“Sebelumnya kami kekurangan fasilitas praktik. Setelah mendapat bantuan ruang praktik siswa khusus otomotif, pembelajaran menjadi jauh lebih optimal,” katanya.
Ia menambahkan, dukungan pemerintah sangat berarti terutama bagi sekolah swasta yang memiliki keterbatasan sumber daya. Dengan fasilitas yang lebih memadai, siswa kini memiliki peluang lebih besar untuk mengasah keterampilan sesuai bidang keahlian masing-masing.
Meski demikian, pihak sekolah berharap program revitalisasi dapat terus berlanjut. SMK YPE Sampang, misalnya, tengah merencanakan pembukaan jurusan baru di bidang pengelasan (welding) dan membutuhkan dukungan lanjutan dari pemerintah.
“Kami berharap ke depan masih ada perhatian untuk pengembangan jurusan baru, agar kualitas pendidikan vokasi semakin meningkat,” tambahnya.
Program revitalisasi SMK menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat pendidikan vokasi nasional. Melalui peningkatan sarana dan prasarana, lulusan SMK diharapkan mampu bersaing di dunia kerja serta menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang.
Dengan berbagai capaian yang mulai terlihat, keberlanjutan program ini menjadi harapan bersama dalam mendorong kemajuan pendidikan vokasi di Indonesia.











