Brebes — Upaya menekan potensi kecelakaan akibat konvoi kelulusan terus dilakukan oleh pihak sekolah SMK Ma’arif NU Jalan Raya Windiaji – Paguyangan Kabupaten Brebes. Salah satunya diterapkan oleh SMK Ma’arif NU Paguyangan dengan kebijakan pembagian hasil kelulusan yang hanya dihadiri oleh orang tua atau wali siswa, tanpa kehadiran langsung para siswa di sekolah.
Kepala Sekolah SMK Ma’arif NU Paguyangan Mardiyanto menjelaskan, bahwa Pada momen pengumuman kelulusan tahun ajaran 2025–2026, pihak sekolah secara khusus mengundang wali siswa untuk mengambil amplop kelulusan. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap tradisi euforia berlebihan yang kerap berujung pada aksi konvoi, coret-coret seragam, hingga kecelakaan lalu lintas.
“Kami berharap setelah hasil kelulusan diterima orang tua, anak-anak tetap berada di rumah dan tidak melakukan kegiatan yang merugikan, seperti konvoi atau aksi lainnya,” ujar Kepala sekolah dalam keterangan resminya.
Selain pembagian hasil kelulusan, kegiatan tersebut juga diisi dengan doa bersama yang melibatkan orang tua. Doa ini ditujukan untuk keselamatan dan masa depan siswa, sekaligus mempererat hubungan antara sekolah dan keluarga.
Pihak sekolah menegaskan bahwa siswa kelas akhir tidak diwajibkan hadir pada hari pengumuman. Kebijakan ini dinilai efektif untuk meminimalkan potensi kerumunan dan tindakan spontan yang berisiko.
Dari sisi capaian akademik, jumlah lulusan tahun ini mengalami peningkatan. Jika pada tahun sebelumnya tercatat 330 siswa, tahun ini jumlahnya mencapai 377 siswa. Selain itu, kualitas lulusan juga dinilai semakin baik, ditandai dengan meningkatnya jumlah siswa yang telah diterima bekerja di berbagai perusahaan.
Tak hanya itu, sejumlah siswa juga berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Setidaknya empat siswa mendapatkan panggilan dari perguruan tinggi di Yogyakarta, sementara lainnya melanjutkan studi di wilayah Purwokerto dan Bumiayu.
Di sisi lain, sekolah juga terus mempersiapkan penerimaan peserta didik baru. Berbagai strategi dilakukan, mulai dari sosialisasi ke sekolah-sekolah, pelaksanaan try out, hingga asesmen minat dan bakat bagi calon siswa.
“Tahun ini target penerimaan sekitar 450 siswa. Saat ini jumlah pendaftar sudah hampir memenuhi kuota, tinggal penambahan satu kelas lagi,” jelas Kepsek.
Melalui pendekatan yang melibatkan orang tua serta penekanan pada pembinaan karakter, sekolah berharap tradisi kelulusan dapat menjadi momen refleksi dan rasa syukur, bukan ajang perayaan berlebihan yang berisiko bagi keselamatan siswa maupun masyarakat.
Yanti, salah satu wali siswa asal Desa Karangkemiri, Kecamatan Pekuncen, menyampaikan dukungannya terhadap kebijakan sekolah yang mengumumkan kelulusan tanpa euforia.
Menurutnya, langkah tersebut dinilai lebih aman dan memberikan dampak positif bagi siswa maupun keluarga. “Menurut saya lebih bagus seperti ini, tidak perlu ada euforia berlebihan. Anak-anak jadi bisa lebih fokus memikirkan langkah ke depan setelah lulus, bukan justru merayakan secara berlebihan,” ujarnya.
Ia mengaku merasa lebih tenang dengan sistem pengumuman yang melibatkan orang tua secara langsung. Dengan begitu, orang tua dapat segera mengetahui hasil kelulusan sekaligus mengarahkan anak agar tetap berada di rumah.
“Kalau seperti ini kan orang tua yang ambil, jadi anak-anak tidak kumpul-kumpul. Saya pribadi lebih senang yang biasa-biasa saja, tidak ada konvoi atau coret-coret,” tambahnya.
Yanti juga menyoroti risiko yang kerap muncul dari tradisi perayaan kelulusan yang berlebihan, seperti konvoi kendaraan di jalan raya. Menurutnya, kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan kecelakaan hingga tindakan yang merugikan.
“Konvoi itu rawan kecelakaan di jalan, bahkan bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tawuran. Yang dirugikan bukan hanya anak, tapi juga keluarga,” jelasnya.
Ia berharap, melalui kebijakan ini, siswa dapat lebih menghargai kelulusan sebagai pencapaian yang patut disyukuri dengan cara yang sederhana dan positif. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya siswa untuk tetap mematuhi arahan guru dan melanjutkan pendidikan atau langkah hidup berikutnya dengan baik.
“Harapan saya, anak-anak bisa mengikuti apa yang sudah diajarkan guru, taat aturan, dan ke depan bisa menjadi lebih baik sesuai kemampuan masing-masing,” pungkasnya.
Tekan Risiko Kecelakaan, Sekolah Batasi Euforia Kelulusan dengan Libatkan Orang Tua
Tekan Risiko Kecelakaan, Sekolah Batasi Euforia Kelulusan dengan Libatkan Orang Tua











