Banyumas — Kasus dugaan penipuan berkedok pengobatan kembali mencuat dan menjadi perhatian publik. Seorang warga dilaporkan menjadi korban setelah diduga mengalami pengurasan rekening hingga ratusan juta rupiah oleh sosok yang dikenal dengan sebutan “Sultan Nusantara”.
Advokat Eko Prihatin menjelaskan, pihaknya telah mendampingi keluarga korban dalam pemeriksaan yang dilakukan di Unit III Polresta Banyumas Selasa (05/05/2026).
Pemeriksaan tersebut melibatkan Rengga Adi sebagai saksi, kakak kandung korban, serta ayah korban.
“Korban awalnya datang untuk menjalani pengobatan bekam. Namun setelah korban meninggal dunia, pihak keluarga menemukan adanya aliran dana dari rekening korban sebesar sekitar Rp475 juta yang mengarah kepada yang bersangkutan,” ujar Eko Prihatin kepada awak media, Selasa.
Menurutnya, pemeriksaan berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Penyidik juga berencana memanggil istri Masrengga sebagai saksi tambahan karena mengetahui secara langsung proses penyerahan kartu ATM milik korban.
Rengga Adi mengungkapkan, dalam pemeriksaan dirinya dimintai keterangan terkait latar belakang terduga pelaku yang sempat mengaku sebagai anggota BIN serta memiliki garis keturunan bangsawan.
Selain itu, penyidik juga mendalami kronologi berpindahnya kartu ATM korban ke tangan terduga pelaku. Diduga, korban dibujuk dengan dalih tertentu, termasuk alasan keagamaan, hingga akhirnya menyerahkan kendali atas rekeningnya.
“Adik saya (TR) dibujuk agar menyerahkan ATM dengan alasan hartanya harus ‘dibersihkan’. Saat itu adik saya masih aktif bekerja sebagai pegawai negeri,” ungkap R
engga.
Setelah kartu ATM berada di tangan terduga pelaku, keluarga kemudian mengetahui bahwa saldo rekening korban berkurang drastis. Dari hasil penelusuran sementara, diketahui terdapat transfer dana setidaknya Rp276 juta ke rekening pribadi terduga pelaku.
Rengga mengaku sempat meminta klarifikasi langsung kepada yang bersangkutan. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
“Saya sudah undang ke rumah setelah adik saya meninggal. Tapi bukannya memberi penjelasan, justru marah-marah dan tidak memberikan jawaban yang jelas,” katanya.
Kasus ini kini masih dalam penanganan pihak kepolisian. Penyidik terus mengumpulkan keterangan saksi dan bukti untuk mengungkap dugaan penipuan yang merugikan korban hingga ratusan juta rupiah tersebut.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan, terutama yang berkedok pengobatan atau praktik spiritual, yang memanfaatkan kondisi psikologis korban.











