Purwokerto — Di tengah riuhnya perhelatan reuni dan kebanggaan atas pencapaian para alumni, terselip kisah pilu yang jarang tersorot. Hery, yang akrab disapa “Chong” oleh teman-teman semasa bersekolah di SMA Negeri 1 Purwokerto angkatan 1990, menjalani hidup yang jauh dari kata sejahtera.
Menurut Djoko Susanto, yang juga merupakan teman seangkatan, di usia 55 tahun Chong belum memiliki pekerjaan tetap. Untuk bertahan hidup, ia bekerja sebagai buruh harian lepas dengan mengandalkan tenaga yang semakin menurun seiring bertambahnya usia.
Jangankan memiliki rumah, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari pun ia masih harus berjuang keras.
Kondisi hidupnya yang memprihatinkan membuat Chong sesekali mendatangi Klinik Hukum Peradi SAI Purwokerto – bukan untuk mencari bantuan hukum, melainkan demi mendapatkan bantuan makanan dan bahan pokok untuk menyambung hidup.
Pemandangan Chong berjalan bersama ibunya di bawah terik matahari menjadi gambaran nyata perjuangan hidup yang tak banyak diketahui. Langkah mereka bukan untuk mengejar kemewahan, melainkan sekadar mencari cara agar bisa makan hari itu.
Ironisnya, di sisi lain, sejumlah kegiatan alumni kerap diwarnai dengan unjuk keberhasilan, jabatan, dan kemapanan ekonomi. Reuni yang seharusnya menjadi ajang mempererat solidaritas tak jarang justru berubah menjadi panggung pencitraan.
Realitas ini menjadi pengingat bahwa tidak semua alumni memiliki perjalanan hidup yang sama. Ada yang berhasil mencapai puncak karier, namun ada pula yang masih berjuang di dasar kehidupan.
Harapan pun disematkan kepada kepengurusan alumni SMANSA Purwokerto ke depan.
Siapa pun yang terpilih sebagai ketua dan pengurus diharapkan mampu membangun semangat kebersamaan yang lebih inklusif – tidak hanya merayakan keberhasilan, tetapi juga merangkul mereka yang membutuhkan.
Lebih dari sekadar jabatan, pengabdian kepada sesama alumni seharusnya diwujudkan dalam aksi nyata: mendorong kemandirian, membuka peluang, serta menghadirkan solusi bagi mereka yang kurang beruntung agar tidak ada lagi alumni yang merasa berjalan sendirian.
Di balik gemerlap kisah sukses, selalu ada cerita sunyi yang menunggu untuk didengar. Dan mungkin, dari sanalah makna sejati kebersamaan bermula.











