Koperasi Perumahan Bilqila Sukses Kembangkan Usaha Kuliner Berbasis Gotong Royong

Koperasi Perumahan Bilqila Sukses Kembangkan Usaha Kuliner Berbasis Gotong Royong

Brebes – Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat, sekelompok ibu rumah tangga di Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, berhasil mengembangkan usaha kuliner berbasis koperasi yang tidak hanya menyediakan beragam menu makanan khas Nusantara, tetapi juga menjadi sumber tambahan pendapatan bagi para anggotanya.

Usaha tersebut dikenal dengan nama *Warkop Sudut Bilqila*, sebuah kafe yang lahir dari aktivitas sosial ibu-ibu Perumahan Bilqila. Berawal dari kebiasaan berkumpul dalam kegiatan lingkungan dan membawa makanan masing-masing saat acara RT, kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah koperasi yang kini mengelola usaha kuliner.

Ketua Koperasi Warkop Sudut Bilqila, *Twi Indriasari*, menjelaskan bahwa pada awal pembentukannya koperasi hanya melayani kebutuhan harian anggota. Namun seiring berjalannya waktu, usaha tersebut berkembang dengan membuka layanan makanan dan minuman yang melibatkan anggota koperasi sebagai pelaku produksi. “Awalnya kami hanya berkumpul saat ada kegiatan RT dan masing-masing membawa makanan. Setelah terbentuk koperasi, yang tadinya hanya menyediakan kebutuhan harian kemudian berkembang menjadi usaha makanan,” ujarnya.

Keunikan Warkop Sudut Bilqila terletak pada sistem produksinya. Berbagai menu dimasak langsung oleh anggota koperasi di rumah masing-masing, kemudian disajikan kepada pelanggan sesuai pesanan. Sistem tersebut memungkinkan lebih banyak anggota terlibat dalam kegiatan usaha sekaligus memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.

Beragam menu tersedia di kafe tersebut, mulai dari sop iga, ayam geprek, soto Lamongan, pempek, susu sapi dengan berbagai varian rasa, ikan goreng, hingga Nusantara platter. Salah satu menu yang menjadi ciri khas daerah adalah *ketan pencok*, makanan tradisional khas Bumiayu yang terbuat dari ketan yang ditumbuk halus dan disajikan dengan taburan gula.

Menurut Twi, keberadaan usaha ini memberikan dampak positif bagi para ibu rumah tangga yang selama ini lebih banyak beraktivitas di rumah.

“Sangat membantu sekali bagi kami ibu-ibu rumah tangga. Karena sebagian besar memang di rumah, sehingga dengan kegiatan ini ada pemasukan tambahan yang sangat terasa manfaatnya,” katanya.

Selain memberikan tambahan penghasilan, koperasi juga menerapkan sistem pengelolaan keuntungan untuk keberlanjutan usaha. Sebagian hasil penjualan dibagikan kepada anggota, sementara sebagian lainnya disimpan sebagai modal pengembangan usaha koperasi.

Antusiasme masyarakat terhadap Warkop Sudut Bilqila cukup tinggi. Pada akhir pekan jumlah pengunjung meningkat dibandingkan hari biasa. Kafe yang beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB tersebut kini menjadi salah satu tempat favorit masyarakat untuk bersantai bersama keluarga maupun teman.

Salah seorang pelanggan, *Nanda Amaylia*, mengaku rutin datang untuk menikmati salah satu menu andalan, yakni sop iga.

“Saya tadi pesan sop iga. Rasanya segar, kuahnya segar banget dan bumbu rempahnya terasa. Harganya sangat terjangkau. Saya hampir setiap hari datang ke sini untuk membeli sop iga. Tempatnya juga nyaman untuk nongkrong dan ngobrol,” ujarnya.

Dengan mengandalkan semangat gotong royong dan pemberdayaan anggota, Warkop Sudut Bilqila membuktikan bahwa koperasi tidak hanya menjadi wadah usaha bersama, tetapi juga mampu memperkuat ekonomi keluarga sekaligus melestarikan kuliner khas daerah.

Ke depan, pengelola berharap Warkop Sudut Bilqila yang telah berdiri sekitar satu tahun tersebut dapat terus berkembang dan menjadi salah satu destinasi kuliner unggulan di wilayah selatan Kabupaten Brebes, sekaligus membuka peluang usaha yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.

Inisiator Warkop Sudut Bilqila, Budi Halim, mengatakan bahwa ide pendirian koperasi berawal dari pengelolaan kas bersama yang kemudian dikembangkan agar lebih produktif dan memberi manfaat bagi anggota.

Menurutnya, pada awalnya koperasi hanya berfokus pada penyediaan kebutuhan sembako bagi anggota. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul usulan dari para ibu rumah tangga agar kegiatan koperasi dapat melibatkan partisipasi usaha sesuai kemampuan masing-masing anggota.

“Awalnya dari koperasi ini terbentuk, kita punya kas. Dari situ kemudian dikembangkan supaya lebih produktif. Awalnya hanya sembako, lalu ada usulan dari ibu-ibu untuk ikut berjualan sesuai keahlian masing-masing,” ujar Budi Halim.

Ia menjelaskan, kesepakatan tersebut kemudian melahirkan konsep Warkop Sudut Bilqila sebagai warung koperasi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat usaha, tetapi juga ruang interaksi sosial bagi warga.

“Makanya disebut Warkop, bukan warung kopi, tapi warung koperasi. Alhamdulillah sudah berjalan lebih dari setahun dan ke depan kita juga akan melaksanakan RAT,” tambahnya.

Budi Halim menyebutkan, berbagai menu yang ditawarkan seperti ketan pencok khas Bumiayu, sop iga, soto Lamongan, susu, hingga mendoan menjadi daya tarik utama yang turut menggerakkan ekonomi anggota.

Selain memberikan tambahan penghasilan, ia menilai keberadaan Warkop Sudut Bilqila juga berdampak pada meningkatnya silaturahmi antarwarga yang sebelumnya cenderung individualistis di lingkungan perumahan.

“Yang paling terasa bukan hanya ekonomi, tapi juga silaturahmi. Warga jadi lebih sering berkumpul, ngobrol, dan hubungan sosial lebih cair,” ungkapnya.

Ke depan, pihaknya membuka peluang pengembangan usaha koperasi ke berbagai sektor lain, termasuk layanan jasa dan potensi kerja sama dengan pihak luar, meski masih terkendala keterbatasan sumber daya.

“Insya Allah ke depan akan dikembangkan lagi, termasuk layanan lain seperti administrasi dan peluang usaha lainnya. Semua anggota diharapkan bisa berperan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *