Tradisi Islam Aboge Tetap Lestarikan Penentuan Iduladha Berdasarkan Kalender Jawa

Tradisi Islam Aboge Tetap Lestarikan Penentuan Iduladha Berdasarkan Kalender Jawa

Banyumas — Di tengah penetapan Hari Raya Iduladha oleh pemerintah, sebagian masyarakat di sejumlah daerah di Pulau Jawa masih mempertahankan tradisi penanggalan Islam Aboge. Penentuan hari besar keagamaan dilakukan menggunakan perhitungan kalender Jawa yang diwariskan secara turun-temurun sejak leluhur.

Tradisi tersebut masih dijaga masyarakat Dusun Dukuhmenir, Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Warga setempat menggelar Sholat Iduladha 1447 Hijriah pada Kamis pagi berdasarkan perhitungan kalender Jawa yang mereka yakini.

Dalam menentukan Hari Raya Iduladha, masyarakat Aboge tidak mengikuti penanggalan pemerintah maupun organisasi Islam pada umumnya. Mereka menggunakan sistem perhitungan yang dikenal dengan Aboge, singkatan dari Alif Rebo Wage, yang mengacu pada siklus tahun dan pasaran Jawa.

Tokoh Aboge setempat, Poniman, menjelaskan bahwa masyarakat memiliki hitungan tersendiri dalam menentukan tanggal pelaksanaan Iduladha.

“Aboge punya perhitungan sendiri. Ini tahun dal, dal tugi. Ngitungnya bulan aji, jadi japaji. Hari tanggal satu bulan besar jatuh Selasa Manis, lalu dihitung terus sesuai pasaran Jawa sampai ketemu hari pelaksanaan Iduladha. Kami mengikuti hitungan dari sesepuh dan leluhur. Yang penting ibadah tetap berjalan dan masyarakat rukun,” ujar Poniman.

Dalam tradisi tersebut, kombinasi hari dan pasaran seperti Selasa Manis, Rabu Pahing hingga Kamis Kliwon menjadi pedoman utama dalam menentukan waktu ibadah. Perhitungan dilakukan berdasarkan kalender Jawa atau talen Jawa yang masih dipercaya masyarakat setempat.

Meski berbeda dengan pemerintah, masyarakat Aboge tetap menjalankan ibadah dengan khusyuk dan penuh kebersamaan. Tradisi ini juga menjadi bagian dari pelestarian budaya dan identitas masyarakat Jawa Islam yang terus dipertahankan hingga kini.

Usai menggelar Sholat Id berjamaah, jamaah saling bersalaman dan melanjutkan kegiatan dengan doa bersama. Acara kemudian ditutup dengan makan bersama serta penyembelihan dua ekor kambing kurban.

Perbedaan penentuan hari raya tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk menjaga toleransi dan saling menghormati. Tradisi Islam Aboge pun tetap bertahan sebagai warisan budaya dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman serta keberagaman praktik budaya dan keagamaan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *