Asap Rezeki dari Tungku Arang Pekuncen Jelang Idul Adha

filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; captureOrientation: null; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: 0;weatherinfo: null;temperature: 36;
Asap Rezeki dari Tungku Arang Pekuncen Jelang Idul Adha

BANYUMAS – Asap putih pekat membumbung dari deretan tungku pembakaran di Desa Cibangkong, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Di balik panas bara dan hitamnya debu arang, para perajin justru sedang menikmati musim panen rezeki menjelang Hari Raya Idul Adha.

Sejak pagi, aktivitas di sentra produksi arang desa itu tak pernah benar-benar berhenti. Tangan-tangan pekerja sibuk mengangkat kayu, membolak-balik bara, hingga memasukkan arang ke dalam karung. Bau kayu terbakar menyelimuti kawasan perkampungan yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penghasil arang tradisional.

Momen Idul Adha menjadi waktu paling sibuk bagi para pengrajin. Permintaan arang melonjak drastis seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk membakar sate dan daging kurban. “Kalau Idul Adha begini memang paling ramai.

Produksi sudah disiapkan sejak sebulan lalu,” kata Udin, salah satu produsen arang di Desa Cibangkong.

Di sela kepulan asap tungku, Udin Nartam memperlihatkan tumpukan arang kayu dan arang batok kelapa yang sudah siap kirim. Menurutnya, permintaan tahun ini meningkat hingga sekitar 70 persen dibanding hari biasa.

Tak hanya dari Banyumas, pesanan juga datang dari sejumlah daerah sekitar, Brebes, Cilacap, Purbalingga hingga Banjarnegara.

Konsumen mencari berbagai jenis arang, mulai dari arang kayu hingga arang batok kelapa yang dinilai menghasilkan panas lebih stabil untuk membakar sate.

Namun tingginya permintaan tidak sepenuhnya membawa kemudahan. Para pengrajin kini menghadapi persoalan bahan baku, terutama batok kelapa yang mulai sulit didapat.

“Kalau arang batok sekarang kendalanya bahan baku. Sulit cari batok kelapa dalam jumlah banyak,” ujarnya.

Kelangkaan bahan baku ikut mendongkrak harga jual. Arang batok kelapa yang sebelumnya dijual sekitar Rp9 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp11 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram.

Di sudut lain lokasi produksi, Sarwono tampak sibuk mengawasi pekerjanya memasukkan arang ke dalam karung besar. Tangannya yang hitam dipenuhi debu arang seolah menjadi penanda kerasnya pekerjaan yang sudah digelutinya bertahun-tahun.

Menurut Sarwono, produksi arang miliknya kini bisa mencapai lebih dari empat ton per minggu. Meski begitu, tingginya pesanan membuat para pengrajin tetap kewalahan.

“Permintaan sekarang luar biasa banyak. Kadang produksi tidak cukup,” katanya sambil tersenyum tipis.

Harga arang kayu pun ikut merangkak naik. Dari yang biasanya sekitar Rp3.500 per kilogram, kini menyentuh Rp4.000 hingga Rp4.500 per kilogram.

Untuk menjaga pasokan tetap tersedia, para produsen arang di Pekuncen kini saling bekerja sama. Jika stok miliknya habis, mereka akan mengambil pasokan dari pengrajin lain agar permintaan pelanggan tetap terpenuhi.

Jenis kayu sono keling menjadi bahan utama produksi arang di wilayah ini. Selain mudah didapat, kayu tersebut dianggap menghasilkan bara yang lebih tahan lama dan cocok untuk kebutuhan membakar sate.

Bagi warga Desa Cibangkong, Idul Adha bukan hanya tentang perayaan keagamaan. Di balik aroma sate yang memenuhi kota-kota besar, ada kerja keras para perajin arang desa yang menjaga bara tetap menyala.

Dari tungku-tungku sederhana di sudut Banyumas itu, asap hitam justru menjadi pertanda datangnya rezeki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *