BANYUMAS — Kesibukan aparat kepolisian menggelar rekonstruksi kasus penyiraman anak dengan bensin di Desa Karangrau, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, menyita perhatian banyak warga. Namun di tengah kerumunan yang menyaksikan jalannya rekonstruksi, tampak seorang ibu rumah tangga tetap tekun menekuni hobi yang telah digelutinya sejak puluhan tahun lalu.
Adalah Suliha (47), warga RT 07 RW 03 Desa Karangrau. Dengan sabar ia merangkai benang demi benang di atas kain khusus untuk membentuk sebuah karya seni kristik bergambar masjid. Aktivitas tersebut dilakukannya di depan rumah yang kebetulan berada tepat di lokasi rekonstruksi perkara yang tengah menjadi perhatian masyarakat.
Bagi Suliha, seni kristik bukan sekadar hobi. Kegiatan itu telah menjadi bagian dari hidupnya sejak masih gadis. Keahlian tersebut diperolehnya secara otodidak, jauh sebelum internet, media sosial, maupun video tutorial daring dikenal masyarakat luas.
“Saya belajar sendiri. Dulu belum ada YouTube, belum ada Android,” ujarnya.
Ketekunan dan kesabaran menjadi modal utama dalam membuat karya kristik. Untuk menyelesaikan satu gambar masjid saja, Suliha membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Pengerjaannya dilakukan di sela-sela aktivitas sebagai ibu rumah tangga setelah seluruh pekerjaan domestik selesai.
Ia mengaku memilih mengisi waktu luang dengan membuat kristik daripada tidak melakukan kegiatan yang bermanfaat. Meski membutuhkan ketelitian tinggi, Suliha mengaku tidak mengalami kesulitan berarti karena sudah terbiasa mengerjakannya sejak lama.
Hobi tersebut sempat terhenti saat dirinya hamil, mengurus anak, hingga bekerja. Namun kini, setelah memiliki waktu lebih longgar, ia kembali menekuni kegiatan yang memberinya ketenangan sekaligus kepuasan batin.
Beragam motif pernah dibuatnya, mulai dari pemandangan, bangunan hingga berbagai gambar sesuai keinginan. Untuk karya bergambar masjid yang sedang dikerjakannya saat ini, sedikitnya dibutuhkan 21 warna benang berbeda agar menghasilkan perpaduan warna yang detail dan menarik.
Seluruh bahan yang digunakan, mulai dari kain, benang hingga jarum, membutuhkan biaya sekitar Rp145 ribu. Meski hasil karyanya memiliki nilai seni dan membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup panjang, Suliha mengaku belum pernah menjual satu pun karya yang dibuatnya. “Belum pernah dijual. Buat sendiri saja,” katanya.
Di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga dan perhatian publik terhadap kasus yang sedang ditangani aparat kepolisian, ketelatenan Suliha merajut benang demi benang menjadi gambar indah menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana sebagian masyarakat memilih mengisi waktu dengan kegiatan produktif dan kreatif.
Karya-karya kristik yang dihasilkannya bukan hanya hiasan dinding semata, tetapi juga menjadi bukti bahwa kesabaran, ketekunan, dan kecintaan terhadap seni dapat terus hidup meski zaman telah berubah.











