Mega Guntara Kembali Pimpin PMI Kota Probolinggo Secara Aklamasi, Siapkan Pos Pertolongan Pertama dan Relawan Penunggu Pasien

Probolinggo – Ketua PMI Kota Probolinggo, Mega Guntara, kembali terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Kota (Muskot) PMI Kota Probolinggo yang digelar di Hotel Nadia, Sabtu (23/5/2026).

Terpilihnya kembali Mega Guntara untuk periode 2026–2031 dinilai tidak lepas dari berbagai capaian dan prestasi PMI Kota Probolinggo selama kepemimpinannya. Forum Muskot berlangsung cair tanpa dinamika berarti dan seluruh peserta sepakat mendukung kembali kepemimpinan Mega secara aklamasi.

Wakil Wali Kota Probolinggo, Ina Dwi Lestari, sebelumnya menilai kinerja pengurus PMI Kota Probolinggo, selama ini sangat baik, terutama dalam hal tata kelola organisasi dan pelayanan publik.

“Yang dilakukan kepengurusan sebelumnya ini luar biasa. Dapat opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) itu luar biasa. Tinggal penyempurnaan saja ke depan,” ujar Ina. Minggu (24/5/2026).

Senada dengan itu, Ketua Bidang Organisasi PMI Jawa Timur, M Taufiq, menegaskan bahwa mekanisme pemilihan ketua PMI sepenuhnya merupakan kewenangan forum musyawarah sebagai kekuasaan tertinggi organisasi.

“Segala prestasi dan pencapaian itu adalah sebuah realitas. Masyarakat sudah menikmati apa-apa yang dilakukan Pak Mega dan kawan-kawan semua,” katanya.

Usai kembali dipercaya memimpin PMI Kota Probolinggo, Mega Guntara memaparkan sejumlah program prioritas yang akan dijalankan dalam lima tahun ke depan. Salah satunya adalah pembentukan pos pertolongan pertama di sejumlah perusahaan.

Menurut Mega, pos tersebut akan difungsikan layaknya puskesmas pembantu dengan melibatkan tenaga bidan dan perawat yang belum memiliki pekerjaan tetap.

“Pos pertama itu akan seperti puskesmas pembantu. Saya akan memfungsikan bidan dan perawat yang memang belum bekerja atau yang mau bergabung dengan PMI,” ujar Mega.

Ia menjelaskan, program tersebut telah dikomunikasikan dengan Dinas Kesehatan dan tidak menemui kendala selama tenaga medis tetap terhubung dengan klinik resmi untuk administrasi Surat Izin Praktik (SIP).

“Jadi SIP-nya ikut klinik. Saya juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi perawat atau bidan yang belum bekerja,” katanya.

Mega menambahkan, layanan di pos pertolongan pertama nantinya akan didukung sistem komunikasi langsung dengan dokter secara on-call, serta ketersediaan obat-obatan dari instalasi farmasi.

Selain layanan kesehatan dasar, PMI Kota Probolinggo juga akan memperkuat peran relawan melalui program pendampingan pasien di rumah sakit maupun di rumah.

Mega mengatakan, PMI akan bekerja sama dengan rumah sakit daerah maupun rumah sakit swasta untuk menempatkan relawan sebagai pendamping pasien yang membutuhkan perhatian khusus.

“Banyak pasien yang mungkin tidak tertangani dengan baik oleh keluarganya karena kesibukan atau kesulitan mencari penjaga. PMI akan menyiapkan relawan untuk membantu,” ujarnya.

Relawan nantinya akan mendapatkan pelatihan khusus sebelum ditempatkan di rumah sakit yang telah bekerja sama dengan PMI.

Menurut Mega, langkah tersebut sekaligus menjadi upaya memperluas fungsi relawan PMI yang selama ini lebih dikenal saat penanganan bencana.

“Selama ini relawan PMI identik dengan bencana. Padahal fungsi kemanusiaan itu sangat luas,” katanya.

Mega juga berharap dukungan pemerintah daerah terhadap PMI tetap berjalan maksimal. Ia menegaskan, dalam Undang-Undang PMI Tahun 2018 disebutkan pemerintah memiliki kewajiban mendukung operasional PMI.

“Kalau masih kurang untuk operasional, mudah-mudahan perusahaan-perusahaan yang selama ini bekerja sama dengan PMI juga ikut membantu,” ujarnya.

Di bawah kepemimpinan Mega, PMI Kota Probolinggo juga mencatat sejumlah capaian penting, mulai penghargaan pelayanan publik hingga kesiapan audit transparansi keuangan.

PMI Kota Probolinggo bahkan menjadi salah satu PMI daerah di Jawa Timur yang memperoleh opini WTP serta masuk enam besar dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur yang dinyatakan siap diaudit oleh PMI Provinsi Jawa Timur.

Selain capaian tata kelola organisasi, PMI Kota Probolinggo juga memperoleh bantuan alat kesehatan dari PMI Pusat dan Kementerian Kesehatan RI senilai sekitar Rp200 juta.

Mega menyebut bantuan tersebut berupa alat kegawatdaruratan untuk mendukung operasional klinik PMI.

“Alhamdulillah kemarin klinik kita mendapat bantuan alat dari PMI Pusat. Ada alat untuk jantung dan beberapa alat medis lainnya. Nilainya kurang lebih Rp200 juta,” katanya.

Menurutnya, dari seluruh Indonesia hanya sekitar 20 klinik PMI yang menerima bantuan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Mega juga mengajak masyarakat menjadikan donor darah sebagai gaya hidup. Menurutnya, kebutuhan darah di wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo mencapai sekitar 950 hingga 1.000 kantong per bulan.

“Selain sehat untuk diri sendiri, donor darah juga sangat bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Ia mengatakan, PMI terus berupaya menjaga keseimbangan stok darah agar tidak sampai kekurangan maupun berlebihan.

“Kalau stok tinggal empat sampai lima kantong, kami sudah mulai mengejar. Tapi kalau terlalu banyak juga sayang karena ada biaya pengolahan dan pemusnahan darah yang tidak terpakai,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *