Perjalanan Agung Buwono: Dari Pengawal Pribadi, Pengamanan Internasional, hingga Berdamai dengan Diri

Perjalanan Agung Buwono: Dari Pengawal Pribadi, Pengamanan Internasional, hingga Berdamai dengan Diri

Banyumas – Perjalanan hidup Agung Buwono, warga Desa Patikraja, Kecamatan Patikraja, Banyumas, mengalami perubahan besar. Berangkat dari pengalaman sebagai pengawal pribadi pada era reformasi, pria yang kini menginjak usia 60 tahun tersebut menjelma menjadi sosok penting di balik pengamanan berbagai ajang otomotif berskala internasional.

Sebagai CEO MMC Guard Indonesia, Agung Buwono menuturkan, perjalanan profesionalnya tidak berangkat dari ambisi politik maupun keinginan mengejar popularitas. Ia justru memulainya dari keinginan untuk memahami standar operasional prosedur (SOP) pengamanan secara profesional. Pengalaman panjang di dunia pengamanan kemudian membawanya menghadapi beragam karakter, situasi, dan persoalan. Namun, di balik perjalanan profesional tersebut, Agung juga menyadari ada sisi kehidupan pribadi yang perlu dibenahi.

Memasuki usia 60 tahun, ia mulai melakukan refleksi terhadap perjalanan hidupnya. Berbagai pengalaman masa lalu, termasuk sikap mudah marah, rasa iri, hingga sulit memaafkan orang lain, kini menjadi pelajaran berharga. “Saya menyesal sekali kenapa dulu banyak tidak memaafkan orang. Dulu saya juga iri sama orang, suka marah sama orang tanpa sebab,” ujarnya.

Kesadaran itu membuat Agung Buwono memutuskan untuk mengubah cara pandang dalam menjalani kehidupan. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai upaya “banting setir”, dari kehidupan yang penuh gejolak menuju kehidupan yang lebih tenang dan sehat.

Ia kini ingin memperbanyak teman, membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarga, serta membuat orang-orang di sekitarnya merasa nyaman. Menurutnya, keberhasilan dalam pekerjaan tidak akan berarti apabila tidak diikuti dengan kehidupan pribadi yang damai.

“Pada intinya saya sudah berdamai dengan diri sendiri. Saya kepingin diri saya senang, keluarga senang, dan orang-orang yang dekat saya senang,” katanya.

Baginya, kebahagiaan di usia senja tidak lagi diukur dari penampilan, jabatan, maupun pencapaian materi. Ia justru ingin meninggalkan kesan positif bagi orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya.

“Saya sederhana saja, kepingin orang-orang rindu sama saya, walaupun saya tidak ganteng,” tuturnya.

Keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih lembut dan mudah berteman juga membuat Agung kembali memegang prinsip yang ia pahami dalam ajaran Islam. Prinsip tersebut sederhana, yakni tidak melakukan kepada orang lain sesuatu yang dirinya sendiri tidak ingin menerima.

Menurutnya, jika seseorang tidak ingin disakiti, maka ia juga tidak seharusnya menyakiti orang lain. Begitu pula ketika seseorang tidak ingin diperlakukan buruk, maka dirinya harus berusaha memberikan perlakuan yang baik kepada orang lain.

“Ketika sesuatu hal kamu tidak mau menerimanya, artinya kita tidak suka, maka jangan kita timpakan ke orang lain. Kita tidak suka disakiti, tentunya kita juga jangan menyakiti,” ujarnya.

Prinsip tersebut kini menjadi salah satu pegangan Agung Buwono dalam membangun hubungan sosial. Ia menyadari bahwa kemampuan memahami perasaan orang lain dan menempatkan diri pada posisi orang lain merupakan bagian penting untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat.

Perjalanan panjangnya di dunia pengamanan juga membuatnya bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa membangun kepercayaan tidak cukup hanya dengan kemampuan profesional, tetapi juga membutuhkan sikap menghargai, menghormati, dan memahami orang lain.

Di usia 60 tahun, Agung Buwono tidak ingin lagi menjadikan pengalaman masa lalu sebagai beban. Kesalahan dan sikap yang pernah dilakukan justru dijadikannya sebagai bahan evaluasi untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Ia ingin menjaga kesehatan, memperbanyak persaudaraan, serta menciptakan suasana yang lebih positif bersama keluarga dan lingkungan sekitar.

Baginya, hidup bukan tentang menjadi manusia yang sempurna. Yang lebih penting adalah kemauan untuk terus memperbaiki diri. Memaafkan menjadi salah satu pelajaran terbesar yang kini ia pegang. Begitu pula dengan mengendalikan amarah, menghilangkan rasa iri, serta belajar memperlakukan orang lain sebagaimana dirinya ingin diperlakukan.

Dari seorang pengawal pribadi di era reformasi hingga terlibat dalam pengamanan ajang otomotif internasional, perjalanan Agung tidak hanya berbicara tentang perkembangan karier. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi proses panjang untuk mengenal dan berdamai dengan dirinya sendiri.

Kini, ia tidak lagi ingin mengejar kehidupan yang dipenuhi permusuhan. Ia memilih memperbanyak teman dan saudara, menjaga kesehatan, serta membangun hubungan yang lebih hangat dengan orang-orang di sekitarnya.

“Rumusnya sederhana. Kalau kita tidak mau disakiti, jangan menyakiti orang lain,” ujarnya.

Pada akhirnya, Pria kelahiran Patikraja, keberhasilan bukan hanya ketika seseorang mampu menjaga keamanan orang lain. Keberhasilan juga ketika seseorang mampu menjaga kedamaian dalam dirinya sendiri dan membuat kehadirannya membawa rasa nyaman bagi orang-orang di sekitarnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *