BANYUMAS – Berawal dari keinginan mencari tambahan penghasilan, pasangan suami istri Wiwit Puji Lestari dan Heri Wibowo, warga Desa Darmaradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sukses mengembangkan usaha budidaya entok di pekarangan rumah.
Usaha tersebut awalnya dijalankan secara sederhana dengan modal lima pasang entok jenis jumbo dan rambon. Seiring waktu, populasi entok terus bertambah. Jenis yang dibudidayakan pun semakin beragam, mulai dari entok lokal pedaging, entok jumbo, hingga entok hias.
Wiwit mengatakan, budidaya entok tersebut bermula dari kegiatan iseng yang kemudian berkembang menjadi usaha untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
“Iseng-iseng buat mencari tambahan penghasilan, membantu perekonomian keluarga agar lebih mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Wiwit.
Dalam perawatannya, entok diberi pakan dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore. Air minum diganti setiap hari, termasuk air yang berada di kolam.
Untuk entok jenis jumbo, pakan yang diberikan antara lain pur serta campuran telur dan nasi. Sementara untuk entok lokal pedaging, pasangan tersebut memanfaatkan sejumlah bahan pakan alternatif guna menekan biaya produksi.
Bahan pakan alternatif yang digunakan di antaranya limbah nasi Padang serta hasil kebun seperti kimpul dan daun talas. Bahan tersebut terlebih dahulu direbus sebelum diberikan kepada entok.
Perbedaan jenis dan kualitas membuat harga jual entok cukup bervariasi. Anakan entok lokal dijual mulai dari Rp15 ribu per ekor. Sementara anakan entok jumbo grade A dapat mencapai Rp250 ribu per ekor.
Untuk entok jumbo grade B, harga jual berada di kisaran Rp30 ribu per ekor. Adapun entok jumbo dewasa dan entok hias memiliki nilai jual lebih tinggi dan dapat mencapai jutaan rupiah per ekor, bergantung pada ukuran, kualitas, serta motif.
Dalam satu kali entas, Wiwit menyebut seekor indukan dapat menghasilkan sekitar 10 anakan entok. Jika dikembangkan dan dipasarkan, hasil ternak tersebut dinilai mampu memberikan tambahan pendapatan yang cukup menjanjikan.
Bagi Wiwit dan Heri, budidaya entok kini bukan lagi sekadar kegiatan sampingan. Usaha tersebut menjadi peluang ekonomi yang terus mereka kembangkan, terutama karena permintaan terhadap entok jumbo dan entok hias dinilai cukup menarik dengan nilai jual yang relatif tinggi.
Dengan perawatan rutin dan pemanfaatan pakan alternatif, keduanya berharap usaha budidaya entok dapat terus berkembang. Selain menambah populasi ternak, usaha tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan menopang kebutuhan ekonomi keluarga.











