Nasi Bronjol, Sajian Sederhana dari Lereng Slamet yang Kini Diburu Wisatawan

Nasi Bronjol, Sajian Sederhana dari Lereng Slamet yang Kini Diburu Wisatawan

PURBALINGGA – Dari hidangan sederhana para petani di lereng Gunung Slamet, nasi bronjol kini menjelma menjadi kuliner tradisional yang mampu memikat wisatawan dari berbagai kota. Sajian berbahan nasi merah dan jagung itu bahkan membuat sejumlah pelanggan rela menempuh perjalanan puluhan kilometer hanya untuk mencicipinya langsung di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.

Jarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Purbalingga bukan menjadi penghalang bagi wisatawan yang penasaran dengan cita rasa nasi bronjol. Untuk mencapai Desa Wisata Serang, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 40 menit dengan suasana khas pedesaan di kawasan lereng Gunung Slamet.

Salah seorang pelanggan, Patria Kukuh, datang jauh-jauh dari Bogor. Ia mengaku mengetahui nasi bronjol melalui media sosial. Rasa penasaran membuatnya menyempatkan waktu pada akhir pekan untuk datang langsung ke Serang.

Menurut Patria, nasi bronjol memiliki cita rasa yang khas dan menu pendamping yang jarang ia temukan di daerah lain.

“Rasanya enak banget nasi bronjol ini. Saya baru pernah menemui nasi bronjol ini hanya ada di daerah Serang Purbalingga ini. Di tempat-tempat lain, di kota-kota lain, saya belum pernah menemukan menu seperti ini,” ujar Patria.

Ia mengaku harga yang hanya Rp15 ribu per porsi juga menjadi daya tarik tersendiri.

“Saya datang dari Bogor, saya lihat di medsos nasi bronjol ini makanan apa. Makanya weekend ini saya coba sempatin datang ke sini hanya untuk mencoba makanan ini. Harganya murah banget, lima belas ribu,” katanya.

Dalam satu porsi, nasi merah dicampur dengan nasi jagung. Sajian tersebut kemudian dilengkapi aneka lalapan dan sayur rebus, tahu, tempe, ikan asin, petai, serta sambal.

Sekilas, hidangan itu terlihat sederhana. Namun, justru perpaduan berbagai bahan tradisional tersebut yang membuat nasi bronjol memiliki karakter rasa tersendiri.

Di balik sepiring nasi bronjol, tersimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakat Desa Serang. Dahulu, makanan tersebut menjadi santapan para petani di wilayah Serang dan kawasan Pratin. Nasi bronjol dibuat sebagai makanan sederhana untuk mengganjal perut sebelum dan selama mereka bekerja di ladang.

Kini, sajian tersebut dikembangkan menjadi kuliner khas yang dapat dinikmati masyarakat luas tanpa meninggalkan ciri tradisionalnya.

Trikartika Sari, pengelola warung nasi bronjol, mengatakan pihaknya berupaya mempertahankan karakter asli makanan tersebut sekaligus memperkenalkannya kepada lebih banyak wisatawan.

“Nasi bronjol itu nasi merah dicampur jagung, ada lalapan, tahu tempe, ikan asin, sambal, dan petai. Dulunya itu makanannya dimakan oleh para petani di Serang Pratin, lalu kita kembangkan di warung nasi bronjol,” kata Trikartika.

Tingginya minat pelanggan terlihat dari kebutuhan bahan baku. Pada hari biasa, warung tersebut dapat menghabiskan sekitar 10 kilogram beras merah.

Jumlah itu melonjak hingga sekitar 30 kilogram ketika akhir pekan atau saat momentum tertentu, seperti perayaan Maulid Nabi.

Menariknya, pelanggan nasi bronjol kini tidak hanya berasal dari Purbalingga dan daerah sekitarnya. Wisatawan dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Banten turut datang untuk mencicipi makanan khas tersebut.

“Pelanggan kita banyak dari Jakarta, Bandung, dan Banten,” ujar Trikartika.

Dari sisi harga, nasi bronjol juga relatif ramah di kantong. Satu porsi nasi bronjol dibanderol Rp15 ribu. Bagi pengunjung yang menginginkan tambahan lauk ayam, tersedia nasi bronjol ayam dengan harga Rp22 ribu.

Harga terjangkau, cita rasa khas, serta suasana pedesaan di lereng Gunung Slamet menjadi kombinasi yang membuat kuliner ini semakin menarik bagi wisatawan.

Pengunjung pun tidak harus menikmati nasi bronjol di warung. Sajian tersebut dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Pengelola menyediakan nasi bronjol dalam kemasan besek bambu yang memberikan sentuhan tradisional sekaligus memperkuat identitas kuliner khas Desa Serang.

Perjalanan nasi bronjol dari bekal sederhana para petani menuju kuliner yang diburu wisatawan menjadi gambaran bagaimana makanan tradisional dapat berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Kini, nasi bronjol bukan sekedar sepiring nasi dengan lauk sederhana. Ia menjadi bagian dari daya tarik wisata kuliner Desa Serang sekaligus menjadi cara masyarakat setempat menjaga warisan rasa agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *